Wacana Kritik Sosial dalam Wayang Kulit Inovatif Cenk Blonk Seri 136 “ Pesta Rakyat”
Keywords:
Analisis Wacana Kritis, Kritik Sosial, Pesta Rakyat, Wayang Kulit Inovatif Cenk BlonkAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi wujud wacana kritik sosial, menganalisis strategi
kebahasaan, serta mengungkap makna ideologis dan implikasi sosiokultural dalam pertunjukan Wayang
Kulit Inovatif Cenk Blonk Seri 136 yang berjudul "Pesta Rakyat". Wayang Cenk Blonk tidak hanya
berfungsi sebagai hiburan yang sarat nilai pendidikan karakter, tetapi juga menjadi ruang publik
(katarsis) yang aman bagi masyarakat untuk merespons dinamika politik dan birokrasi tanpa memicu
konflik terbuka. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana
Kritis (AWK) model Norman Fairclough. Sumber data primer berupa tuturan lisan dari tokoh
punakawan (khususnya Sangut dan Mang Eblonk) yang dikumpulkan melalui teknik simak bebas libat
cakap dan transkripsi dari rekaman video resmi pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
wujud kritik sosial dalam lakon ini terfokus pada patologi birokrasi, hipokrisi elit politik menjelang
pemilihan umum, dan pragmatisme masyarakat seperti praktik politik uang atau Serangan Fajar. Dalam
mengonstruksi wacana tersebut, sang dalang menggunakan strategi kebahasaan berupa alih kode
(bahasa Bali–Indonesia), satire, ironi, pelesetan, serta modifikasi peribahasa lokal (sesenggakan).
Secara sosiokultural, wacana kritik ini bermakna sebagai medium perlawanan simbolik bagi masyarakat
bawah dan menjadi alat edukasi politik yang efektif dan relevan dengan dinamika demokrasi
kontemporer.

