Etnolinguistik Rerajahan Bali: Menyikap Narasi Visual Rerajahan Semara Ratih sebagai Potensi Pembelajaran Sastra Bali
Keywords:
Etnolinguistik, Rerajahan Bali, Narasi Visual, Semara Ratih, Pembelajaran Sastra BaliAbstract
Penelitian ini mengkaji narasi visual rerajahan Semara Ratih melalui pendekatan etnolinguistik
sebagai potensi materi pembelajaran sastra Bali. Rerajahan merupakan ekspresi visual kebudayaan
Bali yang sarat nilai spiritual dan magis. Fokus kajian tertuju pada figur Semara Ratih yang
merepresentasikan mitologi Sang Hyang Semara Ratih dalam Lontar Cundamani II sebagai simbol
cinta kasih, kesetiaan, dan pengorbanan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif
kualitatif dengan mengintegrasikan teori etnolinguistik, semiotika, dan pembelajaran sastra. Data
dianalisis melalui interpretasi simbol visual, perpaduan ikonografi wayang, serta penggunaan aksara
Bali untuk mengungkap makna mendalam dan fungsi rerajahan sebagai artefak komunikasi visual
dalam masyarakat Hindu Bali yang menerapkan konsep rwa bhineda. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa rerajahan Semara Ratih bukan sekadar seni tradisional, melainkan sistem komunikasi
budaya yang merepresentasikan pola pikir spiritualitas masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa
rerajahan memiliki potensi strategis sebagai sumber ajar berbasis kearifan lokal. Integrasi narasi
visual ini dalam pembelajaran sastra Bali diharapkan mampu meningkatkan literasi budaya siswa
serta memperdalam pemahaman nilai-nilai filosofis secara kontekstual dan aplikatif. Penggunaan
artefak budaya sebagai media ajar menjadi solusi inovatif dalam melestarikan sastra dan identitas
lokal di era modern.

