Makna di Balik Narasi Sampah Bali: Kajian Cyberpragmatics dalam Diskursus Media Sosial
Keywords:
Cyberpragmatics; diskursus digital; (ketidak)santunan; implikatur; sarkasme; Analisis Wacana Kritis; relasi kuasa; ideologi; media sosial; negosiasi maknaAbstract
Penelitian ini mengkaji bagaimana makna dibangun dan dinegosiasikan dalam diskursus
digital mengenai isu sampah di Bali, dengan fokus pada strategi pragmatik,
(ketidak)santunan berbahasa, serta relasi kuasa yang terlibat. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dalam kerangka cyberpragmatics dengan data
berupa komentar pengguna media sosial dari platform TikTok, Instagram, dan X. Analisis
dilakukan dengan mengintegrasikan teori implikatur Grice, teori kesantunan Brown dan
Levinson, teori ketidaksantunan Culpeper, serta Analisis Wacana Kritis yang
dikembangkan oleh Norman Fairclough. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna
dalam diskursus digital bersifat dinamis, tidak linear, dan tidak sepenuhnya ditentukan
oleh teks, melainkan terbentuk melalui proses interaksi dan inferensi antar pengguna.
Strategi pragmatik seperti implikatur, ironi, sarkasme, dan ketidaksantunan berbahasa
digunakan tidak hanya untuk menyampaikan makna evaluatif, tetapi juga untuk
membangun posisi sosial, mengekspresikan emosi, dan menarik keterlibatan audiens.
Ketidaksantunan berbahasa tidak semata-mata merupakan pelanggaran norma, tetapi
berfungsi sebagai strategi komunikatif untuk menyampaikan kritik sosial, memperkuat
ekspresi emosional, serta mendelegitimasi pihak tertentu. Lebih lanjut, diskursus digital
menunjukkan adanya kontestasi makna yang mencerminkan relasi kuasa dan ideologi.
Melalui perspektif Analisis Wacana Kritis, bahasa tidak hanya merepresentasikan
realitas, tetapi juga berperan dalam membentuk dan mereproduksi struktur sosial,
termasuk identitas dan posisi ideologis pengguna. Batas antara kesantunan dan
ketidaksantunan menjadi semakin kabur dalam konteks komunikasi digital yang ditandai
oleh anonimitas, multimodalitas, dan interaktivitas.Penelitian ini berkontribusi pada
pengembangan kajian pragmatik digital dengan menunjukkan kompleksitas hubungan
antara bahasa, makna, dan dinamika sosial dalam ruang digital. Selain itu, penelitian ini
menegaskan pentingnya integrasi pendekatan pragmatik dan kritis untuk memahami
praktik komunikasi kontemporer di media sosial.

