https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/issue/feed SANKARA: Prosiding Seminar Nasional Seni Pertunjukan dan Pengajarannya 2026-07-14T17:22:04+00:00 Putu Agus Permanamiarta aguspermana@mahadewa.ac.id Open Journal Systems <p data-start="261" data-end="627"><strong data-start="261" data-end="278">Journal title</strong>: SANKARA: Prosiding Seminar Nasional Seni Pertunjukan dan Pengajarannya<br data-start="352" data-end="355" /><strong data-start="355" data-end="367">Initials</strong>: SANKARA<br data-start="380" data-end="383" /><strong data-start="383" data-end="396">Frequency</strong>: 1 Issue every year (Oktober)<br data-start="427" data-end="430" /><br data-start="452" data-end="455" /><strong data-start="455" data-end="472">ISSN (online)</strong> : 3124-8322<br data-start="491" data-end="494" /><strong data-start="494" data-end="513">Editor in Chief</strong>: I Gede Gusman Adhi Gunawan, S.Sn., M.Sn.<br data-start="547" data-end="550" /><strong data-start="550" data-end="563">Publisher</strong>: Prosiding SANKARA<br data-start="584" data-end="587" /><strong data-start="587" data-end="599">Indexing</strong>: Google Scholar, Garuda</p> <p data-start="629" data-end="1081"><strong data-start="629" data-end="703">SANKARA: Prosiding Seminar Nasional Seni Pertunjukan dan Pengajarannya</strong> merupakan jurnal prosiding yang dikelola oleh Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia. Jurnal ini dipublikasikan secara konsisten dan teratur sebanyak sekali setahun pada bulan Juni. Artikel yang diterbitkan dalam prosiding ini merupakan artikel yang telah diseminarkan pada kegiatan Seminar Nasional Seni Pertunjukan dan Pengajarannya.</p> <p data-start="1083" data-end="1169">Prosiding ini memuat tulisan-tulisan berbahasa Indonesia yang berkaitan dengan bidang Seni Tari, Seni, Musik, Seni Teater, Seni Pedalangan, Seni Pertunjukan Tradisional dan Kontemporer, Pendidikan Seni di berbagai jenjang, Estetika dan kajian seni, Manajemen pertunjukan, dan Pengajaran seni berbasis teknologi digital</p> <p data-start="1427" data-end="1615">Dengan cakupan tersebut, prosiding ini diharapkan dapat menjadi wadah diseminasi gagasan, hasil penelitian, dan praktik baik dalam bidang seni pertunjukan dan pendidikan seni di Indonesia.</p> https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6851 MULTIKULTURALISME SEBAGAI PENDEKATAN KREATIF-ETIS DALAM PENDIDIKAN SENI PERTUNJUKAN 2026-07-02T03:33:19+00:00 Ida Bagus Gede Surya Peradantha surya@isbi-tanahpapua.ac.id <p>Penciptaan seni pertunjukan berbasis multikultural sering menampilkan keberagaman budaya melalui kostum, motif gerak, musik daerah, ornamen visual, atau simbol etnik, tetapi belum selalu disertai pemahaman terhadap makna, konteks, dan tanggung jawab representasinya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan multikulturalisme sebagai pendekatan kreatif-etis dalam pendidikan dan penciptaan seni pertunjukan, khususnya dalam mentransformasikan fenomena budaya menjadi karya drama, tari, dan musik secara bertanggung jawab. Penelitian ini menggunakan rancangan konseptual-reflektif melalui studi pustaka, penelusuran dokumen penelitian dan penciptaan terdahulu, serta refleksi kritis atas pengalaman penulis dalam Tari Karwar, Tutari MegArt Lithic, <em>body painting</em> Padaido, Isolo, Ibhea Obhea, dan Tari Rene Hu. Hasil kajian menunjukkan bahwa keberagaman budaya menjadi sumber kreativitas apabila dipahami sebagai sistem makna, bukan sekadar bentuk luar. Riset budaya, konseptualisasi artistik, dialog dengan pemilik tradisi, dan validasi budaya menjadi unsur penting dalam penciptaan seni berbasis multikultural. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan seni pertunjukan perlu membimbing mahasiswa untuk tidak hanya menampilkan unsur budaya, tetapi juga meneliti, menafsirkan, mengolah, dan mempertanggungjawabkannya secara etis. Implikasinya, pembelajaran seni multikultural perlu diarahkan pada pembentukan pencipta yang kreatif, reflektif, dan peka terhadap martabat budaya sumber.</p> 2026-07-11T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 SANKARA: Prosiding Seminar Nasional Seni Pertunjukan dan Pengajarannya https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6871 KEBERAGAMAN BUDAYA SEBAGAI BASIS PENCIPTAAN TARI KREASI NUSANTARA DALAM TRADITIONAL DANCE SPORT: SEBUAH PRACTICE-BASED RESEARCH 2026-07-05T06:14:07+00:00 I Gede Gusman Adhi Gunawan waonegumiart@gmail.com Dewa Ayu Escha Pradnya Deswita dewayuecha12@gmail.com Ni Kadek Risna Setevi Ari adekrisna2019@gmail.com <p>Keberagaman budaya Indonesia merupakan kekayaan yang memiliki potensi besar sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan karya seni, termasuk tari kreasi Nusantara. Di sisi lain, perkembangan kompetisi <em>traditional dance sport</em> menuntut hadirnya karya-karya tari yang tidak hanya berakar pada nilai tradisi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan tuntutan artistik dan performatif dalam konteks kompetisi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana keberagaman budaya menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan karya tari kreasi Nusantara serta bagaimana implementasinya dalam kompetisi <em>traditional dance sport</em>. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode <em>Practice-Based Research</em> (PBR), yang menempatkan praktik penciptaan karya sebagai proses utama dalam menghasilkan pengetahuan. Peneliti berperan langsung sebagai koreografer yang terlibat dalam seluruh tahapan penciptaan karya, mulai dari eksplorasi sumber budaya, pengembangan konsep, eksperimen gerak, penyusunan koreografi, hingga penyajian karya dalam kompetisi. Data diperoleh melalui observasi proses kreatif, dokumentasi karya, refleksi praktik artistik, dan studi pustaka yang relevan. Analisis dilakukan secara interpretatif untuk memahami hubungan antara keberagaman budaya, proses kreatif, dan implementasi karya dalam arena kompetisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberagaman budaya Indonesia merupakan sumber inspirasi yang kaya dalam pengembangan tari kreasi Nusantara melalui proses eksplorasi, interpretasi, adaptasi, dan transformasi unsur budaya menjadi bentuk koreografi baru. Implementasi karya dalam kompetisi <em>traditional dance sport</em> menunjukkan bahwa unsur budaya dapat diolah secara kreatif tanpa kehilangan identitas tradisionalnya, sekaligus memenuhi tuntutan teknis dan estetis kompetisi. Penelitian ini juga menemukan bahwa praktik penciptaan seni menghasilkan pengetahuan mengenai model transformasi keberagaman budaya ke dalam koreografi kompetitif yang tetap mempertahankan nilai-nilai budaya sebagai identitas utama karya. Dengan demikian, keberagaman budaya tidak hanya berfungsi sebagai sumber inspirasi artistik, tetapi juga sebagai landasan pengembangan inovasi dalam tari kreasi Nusantara di era kompetisi seni pertunjukan.</p> 2026-07-11T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 SANKARA: Prosiding Seminar Nasional Seni Pertunjukan dan Pengajarannya https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6855 PEMBELAJARAN TARI BERBASIS KEARIFAN LOKAL DALAM MEMBANGUN HARMONI SOSIAL 2026-07-02T06:03:17+00:00 Treny Hera trenyhera@univpgri-palembang.ac.id <p>Pembelajaran seni tari memiliki peran penting dalam menanamkan nilai budaya sekaligus membangun hubungan sosial peserta didik. Di tengah arus globalisasi yang semakin kuat, kearifan lokal menjadi unsur penting yang perlu diintegrasikan dalam proses pendidikan agar identitas budaya tetap terjaga. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran pembelajaran tari berbasis kearifan lokal dalam membangun harmoni sosial di lingkungan pendidikan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap proses pembelajaran seni tari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran tari berbasis kearifan lokal mampu menumbuhkan sikap kerja sama, toleransi, disiplin, tanggung jawab, saling menghargai, dan kepedulian sosial antarpeserta didik. Tari tradisional sebagai media pembelajaran membantu peserta didik memahami nilai budaya daerah sekaligus memperkuat identitas budaya lokal. Aktivitas praktik tari kelompok menciptakan ruang interaksi sosial yang positif sehingga terbentuk suasana belajar yang harmonis, kolaboratif, dan inklusif. Selain berfungsi sebagai sarana pelestarian budaya, pembelajaran tari berbasis kearifan lokal juga menjadi media pendidikan karakter yang efektif dalam membangun kesadaran sosial peserta didik di tengah masyarakat multikultural. Dengan demikian, pembelajaran tari berbasis kearifan lokal dapat menjadi strategi pendidikan yang relevan untuk memperkuat harmoni sosial dan ketahanan budaya bangsa.</p> 2026-06-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6858 EKSISTENSI TARI REJANG SARI SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN SENI DALAM MEMPERKUAT DIALOG ANTARBUDAYA PADA IBU-IBU PKK DAN PEMUDI DESA SUMERTA KECAMATAN DENPASAR TIMUR DI ERA MODERN 2026-07-02T07:27:56+00:00 Ni Made Pira Erawati erawatipira@gmail.com ⁠Ni Ketut Laksmi Candra Dewi Pradnya Sari laksmicandra12@gmail.com Ni Putu Mutiara Prasanthi Candra mutiara.aw.bs.8506@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji eksistensi Tari Rejang Sari sebagai media pendidikan seni dalam memperkuat dialog antarbudaya pada masyarakat Desa Sumerta, Kecamatan Denpasar Timur di era modern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Rejang Sari masih eksis dan secara konsisten dipentaskan dalam upacara piodalan di Pura Desa Sumerta. Keberlanjutan pementasan ini menegaskan bahwa tari tidak hanya berfungsi sebagai tari <em>wali </em>dalam konteks ritual keagamaan, tetapi juga berkembang sebagai media pendidikan seni berbasis masyarakat. Proses latihan yang melibatkan ibu-ibu PKK serta pemudi menunjukkan adanya pewarisan nilai budaya yang berlangsung melalui praktik sosial secara langsung. Dalam konteks tersebut, Tari Rejang Sari menjadi ruang interaksi sosial yang mempertemukan berbagai generasi dalam proses pembelajaran budaya. Selain itu, Tari Rejang Sari berkontribusi dalam memperkuat dialog antarbudaya melalui internalisasi nilai-nilai multikultural seperti toleransi, kebersamaan, disiplin, dan penghargaan terhadap identitas budaya lokal. Dengan demikian, Tari Rejang Sari tidak hanya dipahami sebagai ekspresi seni ritual, tetapi juga sebagai media pendidikan seni yang berperan penting dalam menjaga keberlanjutan budaya serta memperkuat kohesi sosial masyarakat di tengah dinamika era modern.</p> 2026-06-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6898 PENDIDIKAN SENI SEBAGAI THIRD SPACE: RUANG DIALOG MULTIKULTURAL MELALUI DRAMA, TARI, DAN MUSIK 2026-07-08T03:39:35+00:00 Pande Putu Yogi Arista Pratama yogi_a@mahadewa.ac.id <p>Indonesia memiliki lebih dari 1.300 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, dan ribuan ekspresi seni yang dipersatukan oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika, namun keberagaman tersebut tidak secara otomatis melahirkan toleransi karena konflik sosial dan intoleransi berbasis identitas masih kerap terjadi. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana konsep third space (ruang ketiga) dari Homi K. Bhabha dapat diadaptasi sebagai kerangka pedagogis dalam pendidikan seni untuk menggeser paradigma pendidikan multikultural dari budaya sebagai warisan menuju budaya sebagai dialog. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dan analisis dokumen atas tiga fenomena budaya Nusantara, yaitu tradisi Barong Sai di Pura Batur, seni pertunjukan wayang, dan Tari Baris dalam upacara mepapad. Hasil kajian menunjukkan bahwa ketiga fenomena tersebut merupakan manifestasi historis dari third space, yaitu ruang perjumpaan dua tradisi budaya yang melahirkan ekspresi baru tanpa menghapus identitas asal. Berdasarkan temuan tersebut, dirumuskan kerangka pedagogis lima tahap dan model dialog sebagai panduan implementasi pembelajaran drama, tari, dan musik di kelas maupun di perguruan tinggi. Kajian ini berkontribusi menjembatani teori poskolonial dengan praktik pendidikan seni serta menegaskan bahwa pendidikan seni berbasis third space merupakan kebutuhan pedagogis yang mendesak bagi masyarakat multikultural Indonesia.</p> 2026-07-11T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6899 ETNOPEDAGOGI TARI JANGKANG DESA CEMPAGA BALI AGA BULELENG: PENDIDIKAN SENI SAKRAL SEBAGAI MEDIA DIALOG ANTAR GENERASI DAN ANTAR BUDAYA 2026-07-08T06:36:55+00:00 Luh Putu Cita Ardiyani citaardiyani1999@gmail.com Ni Luh Ristianti ristiyanti1606@gmail.com Putu Candra Yuliastini putucandrayuliastini@gmail.com <p>Desa Cempaga sebagai salah satu desa Bali Aga di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, memiliki kekayaan seni pertunjukan sakral yang unik, salah satunya Tari Jangkang. Tarian ini hanya ditarikan oleh anak-anak yang telah mengalami fase mepinggah (pergantian gigi) dan dipentaskan sehari setelah Hari Raya Kuningan di Pura Desa Cempaga, mengandung simbolisme prajurit dharma melawan adharma dengan unsur magis-religius yang tinggi. Penelitian ini mengkaji Tari Jangkang melalui pendekatan etnopedagogi pendidikan seni dengan metode kualitatif etnografi, meliputi observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan tiga lapisan nilai pedagogis: (1) nilai inisiasi dan pembentukan identitas budaya Bali Aga; (2) nilai transmisi kearifan lokal melalui filosofi dharma-adharma yang tertanam dalam gerak dan kostum; serta (3) nilai dialog antar budaya sebagai ruang negosiasi identitas antara tradisi Bali Aga dengan kebudayaan nasional Indonesia. Tari Jangkang dengan demikian bukan sekadar warisan seni, melainkan living curriculum berbasis komunitas yang membangun karakter dan kesadaran budaya anak, sekaligus model konkret pendidikan seni berbasis kearifan lokal sebagai jembatan dialog antar budaya.</p> 2026-07-11T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6900 METODE PEMBELAJARAN DALANG AGURON-GURON BERBASIS LONTAR DHARMA PAWAYANGAN: REKONSTRUKSI PEDAGOGI TRADISIONAL DALAM PENDIDIKAN DALANG BALI UTARA 2026-07-08T06:42:42+00:00 I Putu Ardiyasa tuardiyasa@gmail.com I Kadek Abdhi Yasa ikadekabdhiyasa@gmail.com Gede Candra Gupta Nugraha candragupta1112@gmail.com I Kadek Suwarjaya kadeksuwarjaya4@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan merumuskan metode pembelajaran dalang berbasis Aguron-Guron yang berlandaskan ajaran Lontar Dharma Pawayangan sebagai model pendidikan dalang yang holistik. Penelitian dilaksanakan menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi teks, observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap dalang, akademisi, serta komunitas pedalangan di Bali Utara. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan dalang saat ini mengalami disonansi antara aspek teknis (bisa) dan aspek spiritual-filosofis (dadi). Lontar Dharma Pawayangan mengandung sistem pedagogi yang meliputi dimensi etik-moral, spiritual, sastra-filosofis, dan teknikal-artistik yang belum terintegrasi secara optimal dalam pendidikan formal. Berdasarkan temuan tersebut dirumuskan Metode Pembelajaran Dalang Aguron-Guron Berbasis Dharma Pawayangan (PD5N) yang terdiri atas lima tahapan pembelajaran yaitu Nyimak, Nyastra, Nyantrik, Ngayah, dan Nelesin. Metode ini mengintegrasikan pembelajaran berbasis teks, pengalaman, komunitas, dan spiritualitas sehingga menghasilkan dalang yang tidak hanya kompeten secara teknis tetapi juga memiliki kedalaman etis dan spiritual. Model ini dapat menjadi alternatif pengembangan kurikulum pendidikan dalang pada jalur formal, nonformal, maupun tradisional.</p> 2026-07-11T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6905 PENDIDIKAN SENI SEBAGAI MEDIA DIALOG ANTARBUDAYA: MULTIKULTURALISME DALAM PENDIDIKAN SENI MELALUI SENI, DRAMA, TARI, DAN MUSIK 2026-07-08T11:27:26+00:00 I Gusti Ayu Sri Widiantari unggekayu278@gmail.com Gede Sidi Artajaya sidi@mahadewa.ac.id <p>Indonesia sebagai negara multikultural memiliki keberagaman suku, bahasa, agama, adat, dan tradisi budaya yang memerlukan penguatan sikap toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan. Namun, perkembangan globalisasi dan dominasi budaya populer menyebabkan menurunnya apresiasi generasi muda terhadap budaya lokal serta munculnya tantangan dalam membangun dialog antarbudaya di lingkungan pendidikan. Oleh karena itu, pendidikan seni dipandang memiliki peran strategis sebagai media dialog antarbudaya melalui seni, drama, tari, dan musik. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep pendidikan seni berbasis multikulturalisme, mendeskripsikan fungsi pendidikan seni sebagai media dialog antarbudaya, menganalisis implementasi multikulturalisme melalui seni pertunjukan, serta mengidentifikasi tantangan dan solusi pendidikan seni multikultural di era modern. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh melalui berbagai sumber ilmiah, seperti jurnal, prosiding seminar, dan referensi akademik yang berkaitan dengan pendidikan seni dan multikulturalisme. Penelitian ini menggunakan teori multikulturalisme, teori pendidikan seni, dan teori seni sebagai media komunikasi budaya sebagai landasan analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan seni mampu menjadi media efektif dalam membangun komunikasi lintas budaya, menanamkan nilai toleransi, empati, solidaritas sosial, dan penghormatan terhadap keberagaman budaya. Implementasi pendidikan seni multikultural dapat dilakukan melalui pembelajaran drama, tari, musik, festival seni, serta kolaborasi seni lintas budaya. Salah satu contoh konkret adalah Tari Oleg Tamulilingan yang berfungsi sebagai media diplomasi budaya dan sarana dialog antarbudaya dalam konteks internasional. Selain itu, pendidikan seni juga berperan dalam pembentukan karakter peserta didik melalui pengalaman estetis, kolaboratif, dan humanistik. Pembahasan penelitian menunjukkan bahwa pendidikan seni tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengembangan kreativitas, tetapi juga sebagai media internalisasi nilai-nilai multikulturalisme dan penguatan identitas nasional. Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan, seperti minimnya pemahaman guru mengenai pendidikan multikultural, kurangnya fasilitas seni di sekolah, serta rendahnya apresiasi terhadap budaya lokal. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan guru, integrasi seni tradisional dalam kurikulum, pemanfaatan media digital, dan kolaborasi antara sekolah, komunitas seni, serta pemerintah. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan seni memiliki peran penting sebagai media dialog antarbudaya dalam masyarakat multikultural. Melalui seni, drama, tari, dan musik, peserta didik dapat mengembangkan sikap toleran, apresiatif, dan humanis terhadap keberagaman budaya sehingga mampu memperkuat persatuan sosial dan identitas bangsa di era globalisasi.</p> 2026-07-11T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6942 PEMBELAJARAN TRANSFORMASI TARI NUSANTARA BERBASIS KEARIFAN LOKAL: NILAI PEDAGOGIS DAN BUDAYA TARI GENDING SRIWIJAYA DALAM PEDIDIKAN SENI PERTUNJUKAN 2026-07-11T01:02:39+00:00 Naomi Diah Budi Setyaningrum naomis3seni@gmail.com <p>Penelitian ini mengkaji trasformasi Pembelajaran Tari Nusantara berbasis kearifan lokal dalam pendidikan seni pertunjukan dengan fokus pada nilai pedagogis dan budaya Tari Gending Sriwijaya. Penelitian ini menggunakan metode kuwalitatif deskriftif melalui observasi, wawancara dan studi dokumentasi yang melibatkan mahasisiwa pendidikan seni pertunjukan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembelajaran tari berbasis kearifan lokal mampu memperkuat kesadaran estetis, identitas budaya, kreativitas dan pendidikan karakter mahasiswa. Tari Gending Sriwijaya mengandung makna filosofis berupa penghormatan, kelembutan, harmoni dan representasi budaya masyarakat Sumatera Selatan. Selain itu integrasi tari tradisional dalam pendidikan tinggi berkontribusi terhadap pelestarian warisan budaya di tengah globalisasi dan trasformasi digital. Penelitian ini menawarkan model pedagogi tranformasional yang mengintegrasikan, etnokoreologi, identitas budaya, Dan pendidikan seni dalam sistem pembelajaran kontemporer.</p> 2026-07-11T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6943 TRANSFORMASI PENDIDIKAN SENI DI ERA DIGITAL: MEMBANGUN DIALOG ANTAR BUDAYA BAGI GENERASI Z DAN ALPHA 2026-07-11T01:08:10+00:00 Sarah Sabrina Mukaddam mrs.sarahsabrina@gmail.com <p>Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan seni. Generasi Z dan Alpha sebagai generasi digital memiliki karakteristik pembelajaran yang visual, interaktif, kolaboratif, dan berbasis teknologi sehingga memerlukan transformasi model dan pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji transformasi pendidikan seni di era digital melalui penerapan pendekatan STEAM sebagai media dialog antarbudaya bagi Generasi Z dan Alpha. Penelitian menggunakan metode kajian literatur (<em>literature review</em>) dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Data diperoleh dari berbagai sumber pustaka berupa jurnal ilmiah, buku, prosiding, dan dokumen resmi yang relevan dengan pendidikan seni, teknologi pembelajaran, dan budaya. Teknik analisis data menggunakan analisis isi (<em>content analysis</em>) melalui proses identifikasi, seleksi, pengelompokan, dan interpretasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan STEAM relevan diterapkan dalam pendidikan seni karena mampu meningkatkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, serta keterlibatan peserta didik dalam pembelajaran berbasis budaya. Selain itu, pendidikan seni berbasis digital dapat menjadi media dialog antarbudaya melalui integrasi teknologi, eksplorasi budaya lokal, dan pengalaman artistik yang kontekstual. Dengan demikian, transformasi pendidikan seni di era digital perlu tetap menempatkan budaya dan nilai kemanusiaan sebagai inti pembelajaran agar pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan perkembangan teknologi.</p> 2026-06-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6991 TUBUH KEPITING DALAM JERAT PLASTIK: PENCIPTAAN TARI KONTEMPORER “KRATAK” SEBAGAI KRITIK EKOLOGIS TERHADAP PENCEMARAN HUTAN BAKAU 2026-07-14T16:57:14+00:00 Steven Lazarus Kawer epennoxx@gmail.com Yohanes Primus Boli primusbolli@gmail.com Yustus Manami yustusmanami170@gmail.com <p>Penelitian ini membahas proses penciptaan tari kontemporer berjudul&nbsp;<em>Kratak</em>, sebuah karya trio yang bersumber dari kehidupan kepiting bakau, habitat hutan bakau, dan persoalan pencemaran sampah plastik di kawasan pesisir Holtekam dan Tobati. Gagasan penciptaan berangkat dari pengamatan terhadap rusaknya ekosistem bakau akibat sampah plastik yang mengganggu keberlangsungan hidup organisme di dalamnya, termasuk kepiting bakau. Penelitian ini menggunakan pendekatan practice-led research dengan tahapan observasi, eksplorasi gerak, improvisasi, komposisi, dan evaluasi artistik. Gerak kepiting yang menyamping, mencapit, merayap, bersembunyi, dan bertahan hidup di lumpur ditransformasikan menjadi bahasa tubuh kontemporer yang berpadu dengan citra akar bakau dan jerat plastik. Hasil penciptaan menunjukkan bahwa tubuh penari dapat menjadi medium kritik ekologis melalui pengolahan gerak rendah, gestur mencengkram, pola ruang lateral, dan penggunaan plastik sebagai elemen dramaturgis. Karya&nbsp;<em>Kratak</em>&nbsp;tidak hanya merepresentasikan kerusakan habitat bakau, tetapi juga menghadirkan pesan kesadaran kepada manusia untuk menjaga kebersihan lingkungan pesisir. Dengan demikian, penciptaan tari ini menempatkan seni pertunjukan sebagai ruang refleksi ekologis yang menghubungkan tubuh, habitat, dan tanggung jawab manusia terhadap alam.</p> 2026-06-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026 https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sankara/article/view/6992 MODUL AJAR SEBAGAI PERANGKAT PEMBELAJARAN SENI TARI 2026-07-14T17:22:04+00:00 Gusti Ayu Made Puspawati ayu.puspa070171@gmail.com Komang David Darmawan daviddarma7plus@gmail.com I Ketut Lanus nananglanus@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji modul ajar sebagai perangkat pembelajaran seni tari dalam mendukung proses pembelajaran yang efektif, kreatif, dan berbasis budaya. Modul ajar memiliki fungsi penting sebagai pedoman bagi guru dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran seni tari secara sistematis. Dalam konteks pendidikan seni, modul ajar tidak hanya menjadi media penyampaian materi, tetapi juga sarana pengembangan estetika, kreativitas, keterampilan gerak, serta penanaman nilai budaya kepada peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka terkait penggunaan modul ajar dalam pembelajaran seni tari. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara interpretatif. Landasan teori yang digunakan meliputi teori pembelajaran seni, perangkat pembelajaran, dan pendidikan budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul ajar seni tari mampu membantu guru dalam menyusun tujuan pembelajaran, materi, metode, media, dan evaluasi secara terarah dan terstruktur. Penggunaan modul ajar juga meningkatkan motivasi serta partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran karena materi disajikan secara menarik, komunikatif, dan sesuai dengan konteks budaya lokal. Selain itu, modul ajar seni tari berperan sebagai media pelestarian budaya melalui pengenalan nilai-nilai tradisi, estetika, disiplin, dan kerja sama dalam kegiatan pembelajaran. Penelitian ini menyimpulkan bahwa modul ajar sebagai perangkat pembelajaran seni tari memiliki peranan strategis dalam menciptakan pembelajaran yang inovatif, edukatif, dan berbasis kearifan lokal. Pengembangan modul ajar yang relevan dengan kebutuhan peserta didik dan budaya daerah diharapkan mampu meningkatkan kualitas pendidikan seni sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa.</p> 2026-06-30T00:00:00+00:00 Copyright (c) 2026