Prosiding Sandibasa Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa
<p>Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dewasa ini lebih mengutamakan kualitas. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang berkualitas diharapkan mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kualitas pendidikan di Negara Indonesia. Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang bermutu dapat dicapai jika guru atau dosen memiliki inovasi di dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Salah satu inovasi yang dapat dilakukan adalah membuat wadah bagi para pecinta Bahasa dan Sastra Indonesia, yaitu berupa Prosidng. Prosiding yang disusun Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Program Magister FBS, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia ini berjudul SANDIBASA. SANDIBASA merupakan akronim yang berarti Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hal ini sangat gayut dengan tuntutan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di era digital saat ini. Sumbangan pemikiran dari berbagai pakar diharapkan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kualitas pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Penerbit berharap agar prosiding ini dapat menambah wawasan pembaca dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.</p>Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia,Universitas PGRI Mahadewa Indonesiaen-USProsiding Sandibasa Seminar Nasional Pendidikan Bahasa dan Sastra IndonesiaTantangan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Mutakhir
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6516
<p>Pembelajaran bahasa Indonesia di era mutakhir ini mendapat tantangan yang sangat berat.</p> <p>Tantangan tersebut terkait dengan hadir teknologi modern yang perkembangannya sangat</p> <p>pesat. Hadirnya kecerdasan buatan menjadikan pembelajaran bahasa Indonesia mendapat</p> <p>tantangan lebih berat lagi. Di sisi lain, hadirnya berbagai pendekatan, metode, dan model</p> <p>pembelajaran menjadi tantangan tersendiri, jika tidak disikapi secara arif. Hadirnya pendekatan</p> <p>kontekstual, kurikulum merdeka, dan pembelajaran mendalam juga menjadi tantangan</p> <p>tersendiri dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Oleh karena itu, mengembalikan</p> <p>pembelajaran bahasa Indonesia sebagai sarana berkomunikasi dan sebagai sarana berpikir perlu</p> <p>selalu diupayakan. Tujuan pembelajaran agar siswa mampu berbahasa Indonesia sebagai</p> <p>sarana berkomunikasi secara nyata perlu diupayakan dengan mengedepankan proses</p> <p>berbahasa, bukan menghafalkan berbagai teori teks dan kaidah kebahasaannya. Siswa perlu</p> <p>dilatih menulis, berbicara, menyimak dan memirsa, serta membaca secara bertahap. Siswa</p> <p>diajak dan dilatih berpikir dalam berbahasa secara bertahap, bukan mementingkan hasil.</p> <p>Model-model pembelajaran yang cenderung mementingkan aspek sintak dalam pembelajaran</p> <p>perlu dikurangi dan digantikan dengan pembelajaran yang berbasis proses. Untuk itu, penilaian</p> <p>proses (asessment for learning) menjadi hal yang sangat penting</p>Imam Agus Basuki
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541112REVITALISASI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KEARIFAN LOKAL SEBAGAI WAHANA PENDIDIKAN KARAKTER DAN KESADARAN MULTIKULTURAL
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6537
<p>Pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai sarana pengembangan <br>kompetensi kebahasaan, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membentuk <br>karakter dan kesadaran multikultural peserta didik. Namun demikian, praktik <br>pembelajaran yang masih dominan berorientasi pada aspek linguistik formal dan <br>capaian akademik sering kali menyebabkan dimensi nilai, budaya, dan keberagaman <br>belum terintegrasi secara optimal. Artikel konseptual ini bertujuan mendeskripsikan <br>urgensi revitalisasi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal sebagai <br>wahana pendidikan karakter dan kesadaran multikultural. Penulisan artikel <br>menggunakan metode kajian pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui <br>telaah terhadap literatur ilmiah yang relevan mengenai pembelajaran bahasa, <br>etnopedagogi, pendidikan karakter, dan pendidikan multikultural. Hasil kajian <br>menunjukkan bahwa kearifan lokal merupakan sumber pedagogis yang kaya nilai <br>karena mengandung norma sosial, etika, tradisi, dan pandangan hidup yang <br>kontekstual dengan pengalaman peserta didik. Integrasi kearifan lokal dalam materi <br>ajar, strategi pembelajaran, media, dan asesmen mampu merekonstruksi pembelajaran <br>Bahasa Indonesia menjadi lebih kontekstual, reflektif, humanis, dan inklusif. Dengan <br>demikian, revitalisasi pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal <br>merupakan strategi yang relevan untuk membangun peserta didik yang berkarakter, <br>menghargai keberagaman, dan memiliki kesadaran multikultural dalam kehidupan <br>bermasyarakat.</p>Dewa Ayu Widiasri
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-05411328Scaffolding Sebagai Strategi Pengelolaan Beban Kognitif: Upaya Menghindari Cognitive Overload dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6538
<p>Artikel ini bertujuan mengkaji secara konseptual peran scaffolding sebagai strategi pengelolaan beban <br>kognitif dalam upaya menghindari cognitive overload pada pembelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran <br>bahasa yang menuntut pemrosesan simultan terhadap aspek makna, struktur, dan konteks kerap kali <br>menimbulkan beban kognitif yang tinggi, terutama ketika desain pembelajaran tidak selaras dengan <br>kapasitas memori kerja peserta didik. Dalam Cognitive Load Theory, beban kognitif terdiri atas intrinsic <br>load, extraneous load, dan germane load yang perlu dikelola secara seimbang agar proses belajar <br>berlangsung optimal. Artikel ini menggunakan pendekatan konseptual berbasis studi literatur untuk <br>mereinterpretasi scaffolding tidak hanya sebagai dukungan pedagogis, tetapi sebagai mekanisme regulasi <br>kognitif dalam desain pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa scaffolding berperan strategis dalam <br>menekan extraneous load melalui penyederhanaan informasi dan instruksi yang terstruktur, mengelola <br>intrinsic load melalui segmentasi dan pengurutan materi, serta mengoptimalkan germane load melalui <br>aktivitas reflektif dan elaboratif. Prinsip contingency, fading, dan transfer of responsibility diposisikan <br>sebagai mekanisme dinamis dalam mengatur distribusi beban kognitif sesuai dengan kapasitas peserta <br>didik. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh variasi <br>aktivitas, tetapi oleh kemampuan desain pembelajaran dalam mengelola proses berpikir peserta didik. <br>Scaffolding berkontribusi dalam menciptakan kondisi kognitif yang memungkinkan terbentuknya <br>pemahaman mendalam dan pengembangan keterampilan berpikir kritis tanpa terhambat oleh cognitive <br>overload. Artikel ini menawarkan kerangka konseptual integratif yang dapat menjadi dasar dalam <br>merancang pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih adaptif, efisien, dan berorientasi pada proses <br>kognitif.</p>I Kadek Adhi Dwipayana
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-05412938BAHASA INDONESIA SEBAGAI RUANG DIALOG BUDAYA: MODEL PENGAJARAN BAHASA YANG MENUMBUHKAN LITERASI MULTIKULTURAL DAN KESADARAN KEBINEKAAN
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6539
<p>Artikel konseptual ini bertujuan mengkaji peran bahasa Indonesia sebagai ruang dialog <br>budaya dalam konteks masyarakat multikultural serta merumuskan model pengajaran bahasa <br>yang mampu menumbuhkan literasi multikultural dan kesadaran kebinekaan. Dalam realitas <br>sosial Indonesia yang ditandai oleh keberagaman suku, bahasa, tradisi, dan sistem nilai, <br>pembelajaran bahasa Indonesia tidak cukup dipahami hanya sebagai proses penguasaan <br>kompetensi linguistik, melainkan juga sebagai wahana pembentukan pemahaman budaya, <br>sikap toleran, dan penghargaan terhadap perbedaan. Artikel ini menggunakan pendekatan <br>kajian konseptual melalui telaah teoritis terhadap hubungan bahasa, budaya, pendidikan <br>multikultural, dan literasi antarbudaya. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahasa Indonesia <br>memiliki fungsi strategis tidak hanya sebagai alat komunikasi nasional, tetapi juga sebagai <br>medium interaksi, negosiasi makna, dan penguatan identitas kebangsaan dalam ruang <br>pendidikan. Model pengajaran bahasa berbasis dialog budaya dapat diimplementasikan <br>melalui integrasi teks budaya, diskusi lintas budaya, analisis wacana, dan proyek literasi <br>budaya yang mendorong peserta didik berpikir kritis, reflektif, dan inklusif. Dengan demikian, <br>pembelajaran bahasa Indonesia berbasis multikultural berpotensi memperkuat karakter <br>kebinekaan serta membentuk peserta didik yang memiliki sensitivitas budaya, empati sosial, <br>dan kesadaran hidup bersama dalam keberagaman.</p>Nyoman Astawan I Nyoman Sadwika
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-05413947Makna di Balik Narasi Sampah Bali: Kajian Cyberpragmatics dalam Diskursus Media Sosial
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6551
<p>Penelitian ini mengkaji bagaimana makna dibangun dan dinegosiasikan dalam diskursus <br>digital mengenai isu sampah di Bali, dengan fokus pada strategi pragmatik, <br>(ketidak)santunan berbahasa, serta relasi kuasa yang terlibat. Penelitian ini <br>menggunakan pendekatan kualitatif dalam kerangka cyberpragmatics dengan data <br>berupa komentar pengguna media sosial dari platform TikTok, Instagram, dan X. Analisis <br>dilakukan dengan mengintegrasikan teori implikatur Grice, teori kesantunan Brown dan <br>Levinson, teori ketidaksantunan Culpeper, serta Analisis Wacana Kritis yang <br>dikembangkan oleh Norman Fairclough. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna <br>dalam diskursus digital bersifat dinamis, tidak linear, dan tidak sepenuhnya ditentukan <br>oleh teks, melainkan terbentuk melalui proses interaksi dan inferensi antar pengguna. <br>Strategi pragmatik seperti implikatur, ironi, sarkasme, dan ketidaksantunan berbahasa <br>digunakan tidak hanya untuk menyampaikan makna evaluatif, tetapi juga untuk <br>membangun posisi sosial, mengekspresikan emosi, dan menarik keterlibatan audiens. <br>Ketidaksantunan berbahasa tidak semata-mata merupakan pelanggaran norma, tetapi <br>berfungsi sebagai strategi komunikatif untuk menyampaikan kritik sosial, memperkuat <br>ekspresi emosional, serta mendelegitimasi pihak tertentu. Lebih lanjut, diskursus digital <br>menunjukkan adanya kontestasi makna yang mencerminkan relasi kuasa dan ideologi. <br>Melalui perspektif Analisis Wacana Kritis, bahasa tidak hanya merepresentasikan <br>realitas, tetapi juga berperan dalam membentuk dan mereproduksi struktur sosial, <br>termasuk identitas dan posisi ideologis pengguna. Batas antara kesantunan dan <br>ketidaksantunan menjadi semakin kabur dalam konteks komunikasi digital yang ditandai <br>oleh anonimitas, multimodalitas, dan interaktivitas.Penelitian ini berkontribusi pada <br>pengembangan kajian pragmatik digital dengan menunjukkan kompleksitas hubungan <br>antara bahasa, makna, dan dinamika sosial dalam ruang digital. Selain itu, penelitian ini <br>menegaskan pentingnya integrasi pendekatan pragmatik dan kritis untuk memahami <br>praktik komunikasi kontemporer di media sosial.</p>I Ketut Suar Adnyana
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-05414887Menggagas Pendidikan Multikultural Melalui Wacana Konflik Antaretnis : Sebuah Model Case Based Learning
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6552
<p>Tujuan artikel ini untuk menggagas model pendidikan dengan menekankan <br>keberagaman yakni pendidikan multikultur. Model pendidikan ini penting dibahas karena <br>Indonesia adalah negara pluralis yang terdiri dari berbagai etnis, agama, budaya, bahasa daerah <br>yang berbeda-beda. Kondisi beragam tersebut kalau tidak dikelola dengan baik, maka <br>dikhawatirkan akan muncul disintegrasi bangsa. Banyak terjadi kasus antaretnis pernah terjadi <br>di Indonesia seperti kasus Lampung, Sampit, Poso, Maluku dan Papua. Konflik lokal yang <br>diduga sebagai persaingan antaretnis dapat dikaji sebagai sebuah kasus untuk menggagas <br>pendidikan multikultural. Model Pendidikan multikultural yang ditawarkan adalah <br>pembelajaran menghargai perbedaan, toleransi, silang budaya (cross cultural) dan kesetaraan. <br>Dalam praktek di kelas, siswa diajak untuk memahami kebhinekaan, merayakan perbedaan, <br>toleransi lintas agama, lintas budaya dan kearifan lokal. Pendidikan multikultural ini sifatnya <br>terintegrasi, sebagaimana halnya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam <br>kurikulum merdeka. Konflik antaretnis sebagai sebuah wacana dapat dijadikan materi ajar <br>bahasa Indonesia, berkolaborasi dengan bidang stsudi lain yang serumpun. Secara ideologi, <br>Indonesia sudah memiliki pemahaman multikultural yang cukup kuat melalui, slogan Bhineka <br>Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Namun praktek di lingkungan pendidikan, belum <br>terealisasi secara nyata. Gagasan pendidikan mutlikultural melalui pembelajaran berbasis kasus <br>(cace based learning) perlu dibahas di dalam kelas sehingga pembelajaran akan lebih <br>kontekstual dan bermakna.</p>I Nyoman Suaka
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-05418899PEMETAAN MANAJEMEN PEMBELAJARAN DIGITAL: ANALISIS LITERATUR REVIEW
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6553
<p>Penelitian ini bertujuan untuk memetakan manajemen pembelajaran digital melalui pendekatan <br>analisis literatur review guna memahami konsep, komponen, serta perkembangan <br>implementasinya dalam dunia pendidikan. Metode yang digunakan adalah kajian literatur terhadap <br>berbagai sumber ilmiah yang relevan terkait pembelajaran digital dan teknologi pendidikan <br>(EdTech). Analisis dilakukan secara sistematis untuk mengidentifikasi manajemen pembelajaran <br>digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa manajemen pembelajaran digital dapat dipetakan ke <br>dalam lima tahapan utama, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian, serta <br>pengembangan. Pada tahap perencanaan, fokus diarahkan pada analisis kebutuhan, pemilihan <br>model pembelajaran (blended, hybrid, dan fully online), serta integrasi teknologi seperti LMS dan <br>AI. Tahap pengorganisasian menekankan pada penataan peran pendidik sebagai fasilitator digital <br>dan peserta didik sebagai pembelajar aktif, pengelolaan platform, serta penyusunan konten digital <br>yang interaktif. Tahap pelaksanaan menunjukkan bahwa pembelajaran berkembang ke arah model <br>hybrid dengan pemanfaatan metode sinkron dan asinkron, serta dukungan teknologi digital yang <br>meningkatkan fleksibilitas belajar. Tahap pengendalian memanfaatkan assessment digital, learning <br>analytics, serta AI untuk monitoring dan pemberian umpan balik. Tahap pengembangan <br>menegaskan pentingnya inovasi berkelanjutan melalui peningkatan kompetensi digital pendidik, <br>integrasi teknologi baru seperti AI dan Big Data, serta penguatan kebijakan pembelajaran digital. <br>Temuan ini menunjukkan bahwa perkembangan pembelajaran digital dan teknologi pendidikan <br>menuntut adanya sinergi antara teknologi, pedagogi, dan kebijakan yang mampu meningkatkan <br>efektivitas, fleksibilitas, dan kualitas pembelajaran.</p>Zulhafizh M. Nur MustafaElvrin SeptyantiTria Putri MustikaAfdhal Kusumanegara
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541100119Transformasi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Berbasis Kearifan Lokal dengan Digital
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6554
<p>Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan model pembelajaran bahasa dan sastra <br>Indonesia yang mampu menjawab tantangan era digital sekaligus menanamkan nilai kearifan lokal <br>pada generasi Z. Generasi ini dikenal akrab dengan teknologi dan berpikir kritis, namun berpotensi <br>mengalami krisis identitas budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan serta menguji <br>efektivitas model literasi sastra digital berbasis kearifan lokal dalam meningkatkan penguasaan <br>konsep literasi, keterampilan berpikir kritis, dan apresiasi budaya. Metode yang digunakan adalah <br>penelitian dan pengembangan (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi tahap analisis, desain, <br>pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian adalah siswa tingkat menengah. <br>Instrumen yang digunakan meliputi tes literasi, angket literasi digital, lembar observasi keterlibatan <br>belajar, serta rubrik penilaian karya digital berbasis cerita rakyat. Hasil penelitian menunjukkan <br>adanya peningkatan signifikan pada penguasaan konsep literasi (rata-rata +23,3; p<0,05), <br>keterampilan berpikir kritis (p=0,001), serta apresiasi budaya (dari 48% menjadi 72%). Temuan ini <br>menunjukkan bahwa digital storytelling berbasis cerita rakyat efektif dalam meningkatkan literasi <br>bermakna, kemampuan berpikir tingkat tinggi, serta pelestarian budaya lokal. Model ini relevan <br>dengan tuntutan pendidikan abad ke-21 yang stres kreativitas, kolaborasi, dan pemanfaatan <br>teknologi secara bijak.</p>Isah Cahyani Kastam SyamsiHarisson RadjiSri WahyuniTeti SobariWikanengsih Romarzila
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541120134Dinamika Linguistik Preskriptif dan Deskriptif: Studi Kasus Prefiks meN-pada Kata Dasar Berawalan Fonem /p/ dalam Bahasa Indonesia
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6555
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika antara pendekatan linguistik <br>preskriptif dan deskriptif, khususnya pada proses morfofonemik prefiks meN-. Masalah <br>dalam penelitian ini (1) bagaimana perbedaan prinsip antara linguistik preskriptif dan <br>deskriptif bentuk kata berfrefiks meN- pada kata dasar berawalan fonem /p/; (2) mengapa <br>terjadi perbedaan penggunaan antara bentuk preskriptif (baku) dan deskriptif (tidak baku) <br>pada kata berfrefiks meN- pada kata dasar berawalan fonem /p/ dalam masyarakat. Fokus <br>utama kajian ini adalah fenomena ketidakkonsistenan peluluhan fonem /p/ pada kata dasar, <br>seperti pengaruh dan pesona. Melalui tinjauan kepustakaan dan observasi penggunaan <br>bahasa, ditemukan bahwa meskipun linguistik preskriptif menetapkan aturan peluluhan yang <br>ketat, linguistik deskriptif mencatat adanya resistensi penutur yang cenderung <br>mempertahankan bentuk asli kata dasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif <br>deskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah analisis komparatif antara teori linguistik <br>baku (preskriptif) dengan kenyataan penggunaan bahasa di masyarakat (deskriptif). Data <br>dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, data primer: dari dokumen formal di internet, <br>media massa digital, dan percakapan di media sosial. Sedangkan data sekunder: referensi <br>teoretis dari buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI), Kamus Besar Bahasa <br>Indonesia (KBBI), serta jurnal-jurnal linguistik terkait. Hasil analisis menunjukkan bahwa <br>perbedaan ini terjadi karena adanya tarikan antara standarisasi formal dan kebutuhan praktis <br>penutur dalam berkomunikasi.</p>I Made Sudiana
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541135149Pemanfaatan Cerita Rakyat Dayak Kalimantan Barat sebagai Sumber Belajar Membaca dan Menyimak dalam Konteks Pendidikan Multikultural
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6558
<p>Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam konteks multikultural memanfaatkan sumber belajar <br>untuk mengembangkan keterampilan berbahasa serta menanamkan nilai-nilai budaya. <br>Salah satu sumber belajar yang potensial adalah cerita rakyat, khususnya cerita rakyat <br>Dayak Kalimantan Barat yang sarat akan kearifan lokal. Makalah ini bertujuan untuk <br>mengkaji secara teoritis pemanfaatan cerita rakyat Dayak Kalimantan Barat sebagai <br>sumber belajar dalam pembelajaran membaca dan menyimak berbasis pendidikan <br>multikultural. Metode yang digunakan adalah kajian pustaka dengan pendekatan kualitatif<br>deskriptif melalui analisis berbagai literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan <br>bahwa cerita rakyat Dayak Kalimantan Barat mempunyai nilai edukatif yang dapat <br>diintegrasikan dalam pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan membaca dan <br>menyimak. Selain itu, dapat menumbuhkan kesadaran multikultural peserta didik. <br>Pemanfaatan cerita rakyat dalam pembelajaran memungkinkan terjadinya proses <br>pemaknaan yang lebih kontekstual, kritis, dan reflektif terhadap nilai-nilai budaya. Oleh <br>karena itu, integrasi cerita rakyat sebagai bahan ajar berbasis multikultural merupakan <br>strategi yang relevan dalam menciptakan pembelajaran Bahasa Indonesia yang bermakna <br>dan berorientasi pada penguatan karakter.</p>Debora Korining Tyas Valentinus Ola Beding
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541150162Peran Nilai Estetika Dalam Meningkatkan Apresiasi Sastra Dikalangan Generasi Muda
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6561
<p>Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran nilai estetika dalam meningkatkan apresiasi sastra di <br>kalangan generasi muda serta implikasinya dalam pembelajaran sastra. Artikel ini menggunakan <br>pendekatan deskriptif kualitatif dengan menganalisis konsep estetika, unsur-unsur estetika dalam <br>karya sastra, serta penerapannya dalam proses pembelajaran. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai <br>estetika, seperti keindahan bahasa, kekuatan imajinasi, nilai emosional, dan kedalaman makna, <br>memiliki peran penting dalam menarik minat baca, memperdalam pemahaman, mengembangkan <br>kreativitas, meningkatkan empati, serta melatih kemampuan berpikir kritis generasi muda. Namun, <br>terdapat berbagai tantangan dalam meningkatkan apresiasi sastra, seperti rendahnya minat baca, <br>dominasi teknologi digital, kurangnya inovasi pembelajaran, serta keterbatasan akses terhadap karya <br>sastra. Oleh karena itu, diperlukan strategi pengembangan berupa integrasi teknologi, penggunaan <br>karya yang relevan, metode pembelajaran kreatif, serta peningkatan literasi digital dan literasi sastra. <br>Dengan demikian, pembelajaran sastra berbasis estetika dapat menjadi solusi efektif dalam <br>membangun budaya literasi dan meningkatkan apresiasi sastra di kalangan generasi muda.</p>Dediyansyah
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541163172Penguatan Literasi Masyarakat di Era Digital: Tantangan, Strategi, dan Masa Depan Demokrasi Informasi
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6562
<p>Pesatnya penetrasi internet di Indonesia tidak serta-merta diiringi dengan peningkatan <br>kecakapan literasi digital, sehingga memicu kerentanan terhadap disinformasi dan polarisasi <br>sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis urgensi penguatan literasi digital di <br>masyarakat serta merumuskan strategi implementasi yang efektif di era distrupsi informasi. <br>Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, <br>mengkaji berbagai literatur terkini, laporan indeks literasi, dan fenomena sosial digital. Hasil <br>penelitian menunjukkan bahwa literasi digital bukan sekadar kecakapan teknis (hard skills), <br>melainkan mencakup dimensi kognitif dan etis yang meliputi kecakapan (digital skills), budaya <br>(digital culture), etika (digital ethics), dan keamanan (digital safety). Penguatan literasi digital <br>terbukti mampu memitigasi penyebaran hoaks dan memperkuat partisipasi publik yang <br>sehat. Strategi kolaborasi melalui model pentaheliks antara pemerintah, akademisi, dan <br>masyarakat sipil menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem digital yang tangguh. <br>Penemuan ini menekankan bahwa tanpa literasi yang memadai, transformasi digital hanya <br>akan menjadi beban sosial daripada penggerak kemajuan.</p>Kholid Abdullah Harras
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541173182Etnografi Literasi: Kontruksi Makna dan Praktik Literasi Dalam Komunitas Belajar Kelas Yang Menerapkan Inquiry Based Learning
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6563
<p>Penelitian ini mengkaji konstruksi makna dan praktik literasi dalam komunitas belajar kelas yang <br>menerapkan inquiry-based learning melalui pendekatan etnografo literat. Literasi dalam penelitian ini <br>dipahami bukan semata sebagai kemampuan teknis membaca dan menulis, melainkan sebagai praktik <br>sosial yang dibentuk oleh interaksi, bahasa, dan budaya kelas. Penelitian menggunakan kualitatif <br>dengan pendekatan etnografi kelas pada satu komunitas belajar yang secara konsisten menerapkan <br>pembelajaran berbasis inkuiri. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam <br>dengan guru dan peserta didik, serta analisis artefak literasi seperti jurnal inkuiri, catatan refleksi, dan <br>produk tulisan siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik literasi dalam kelas inquiry terwujud <br>dalam empat bentuk utama, yaitu literasi sebagai sarana eksplorasi pengetahuan, alat pembuktian, <br>medium ekspresi argumentatif, dan tanggung jawab kolektif komunitas belajar. Konstruksi makna <br>terbentuk melalui negosiasi berkelanjutan antara guru, siswa, dan konteks pembelajaran, yang <br>dipengaruhi oleh perencanaan bahasa, pilihan ragam akademik, serta norma partisipasi kelas. Temuan ini <br>menegaskan bahwa penerapan inquiry-based learning berkontribusi signifikan terhadap penguatan <br>praktik literasi bermakna dan berkelanjutan dalam komunitas belajar, serta memiliki implikasi penting <br>bagi perencanaan bahasa dan pengembangan pembelajaran berbasis literasi di sekolah.</p>Kadek Trisna Dewi
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541183193Kajian Literatur: Inovasi Strategi Pembelajaran Membaca Siswa di Era Digital
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6564
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji serta merangkum berbagai inovasi strategi pembelajaran <br>membaca yang berkembang di era digital, menganalisis tingkat efektivitasnya dalam meningkatkan <br>kemampuan membaca siswa, serta menentukan strategi yang paling relevan untuk diterapkan dalam <br>pembelajaran bahasa dan sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan <br>kualitatif dengan jenis kajian literatur, yang menganalisis 10 artikel dari jurnal nasional yang berkaitan <br>dengan pengembangan keterampilan membaca pada jenjang sekolah dasar hingga sekolah menengah <br>pertama. Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh strategi yang dikaji, seperti pembelajaran <br>berdiferensiasi, Question Answer Relationships (QAR), KWL (Know, Want to Know, Learned), <br>CALLA, serta pemanfaatan media digital seperti smartboard, terbukti efektif dalam meningkatkan <br>kemampuan membaca pemahaman maupun kecepatan membaca siswa. Peningkatan yang signifikan <br>terlihat pada capaian ketuntasan belajar, misalnya pada penerapan strategi KWL yang mengalami <br>kenaikan dari 7% menjadi 100%, serta pembelajaran berdiferensiasi yang meningkat dari 18,5% <br>menjadi 88%. Tidak hanya berdampak pada peningkatan hasil belajar, penerapan strategi-strategi <br>inovatif tersebut juga mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Hal ini ditunjukkan melalui <br>meningkatnya keaktifan siswa, kemampuan berpikir kritis, rasa percaya diri, serta ketahanan dalam <br>membaca. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca yang bersifat <br>kolaboratif, disesuaikan dengan kesiapan siswa, serta terintegrasi dengan literasi digital merupakan <br>pendekatan yang paling efektif dalam menjawab tuntutan pembelajaran abad ke-21.</p>Berliana Agung Pangestuti
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541194203Analisis Makna Denotatif dan Konotatif dalam Lirik Lagu Celengan Rindu Karya Fiersa Besari
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6565
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna denotatif dan konotatif yang terkandung dalam lirik <br>lagu “Celengan Rindu” karya Fiersa Besari, sekaligus mengungkap fenomena kebahasaan yang <br>merefleksikan pengalaman emosional dalam hubungan jarak jauh. Pendekatan yang digunakan ada<br>lah kualitatif deskriptif dengan penekanan pada analisis semantik. Data berupa teks lirik lagu di<br>peroleh melalui teknik dokumentasi, kemudian dianalisis dengan metode simak dan catat, serta di<br>perkuat melalui observasi dengan cara mendengarkan lagu secara berulang. Hasil penelitian mem<br>perlihatkan bahwa makna denotatif dalam lirik secara eksplisit menggambarkan kondisi kerinduan, <br>keterbatasan interaksi akibat jarak, serta harapan untuk dapat bertemu kembali. Di sisi lain, makna <br>konotatif mencerminkan kompleksitas emosi, seperti kerinduan yang mendalam, kecemasan, kecem<br>buruan, serta usaha menjaga hubungan melalui komitmen, kepercayaan, dan kesabaran. Temuan ini <br>memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian semantik, khususnya dalam memahami <br>peran lirik lagu sebagai medium ekspresi pengalaman subjektif yang kompleks. Selain itu, penelitian <br>ini juga memiliki implikasi praktis bagi kajian sastra dan linguistik dalam menafsirkan makna bahasa <br>secara kontekstual.</p>Ni Made Erna Artini
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541204213Kontribusi Komunitas Baca dalam Peningkatan Literasi Bahasa dan Sastra Masyarakat
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6566
<p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi komunitas baca dalam peningkatan literasi <br>bahasa dan sastra masyarakat. Rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia menjadi <br>permasalahan yang masih dihadapi hingga saat ini, sehingga diperlukan berbagai upaya untuk <br>meningkatkannya. Salah satu pendekatan yang jdapat dijadikan sebuah upaya dalam meningkatkan <br>literasi masyarakat adalah melalui komunitas baca yang dikemas secara menarik dan partisipatif. <br>Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kondisi tersebut, sehingga komunitas baca dipandang <br>sebagai solusi efektif di luar pendidikan formal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif <br>dengan metode studi pustaka, yaitu mengkaji berbagai sumber ilmiah yang relevan dengan konsep <br>literasi, bahasa, sastra, serta peran komunitas baca dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan <br>bahwa komunitas baca memiliki kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan minat baca, <br>memperkuat kemampuan berbahasa, serta menumbuhkan apresiasi terhadap karya sastra. Selain itu, <br>komunitas baca juga berfungsi sebagai ruang interaksi sosial yang mendorong diskusi, pertukaran <br>gagasan, dan pengembangan kemampuan berpikir kritis. Berdasarkan hasil tersebut, komunitas baca <br>dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam penguatan literasi bahasa dan sastra masyarakat secara <br>berkelanjutan.</p>Ni Wayan SuwiniNi Komang SariasihNi Komang Dian Yuliasih
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541214226Perubahan Pola Komunikasi dan Ekspresi Sastra di Era Digital
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6568
<p>Transformasi digital telah mengubah cara berkomunikasi dan mengekspresikan diri dalam ranah sastra. <br>Masa depan sastra digital tidak hanya bergantung pada kecanggihan platform, tetapi bagaimana komunitas <br>kreatif mampu menjaga keseimbangan antara kecepatan teknologi dan ketajaman penghayatan seni. <br>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pergeseran cara berkomunikasi dari metode tradisional ke digital <br>yang cepat, tanpa kabel, dan saling terhubung. Di sisi lain, zaman ini telah melahirkan sastra siber yang <br>menembus batas fisik dari buku konvensional melalui penggunaan platform media sosial serta aplikasi <br>penulisan online. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, temuan dalam penelitian menunjukkan bahwa <br>komunikasi secara digital cenderung memudarkan perbedaan antara penggunaan bahasa formal dan santai, <br>sedangkan ekspresi sastra mengalami proses demokratisasi yang memungkinkan penulis dan pembaca <br>berinteraksi secara langsung tanpa batasan pengawasan yang ketat. Namun, pergeseran ini juga <br>memunculkan tantangan bagi kualitas estetika dan kedalaman arti teks. Kesimpulan dari penelitian ini <br>menegaskan bahwa meskipun teknologi mengubah cara dan bentuk ekspresi, tetapi inti dari komunikasi <br>dan sastra tetap yaitu menjadi alat utama manusia untuk mencerminkan realitas sosial di ruang publik <br>digital yang senantiasa berubah.</p>Ni Kadek Intan Karunia DewiNi Luh Made Intan Kharisma PutriNi Kadek Ayu Sumita Dwi Anjani
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541227232Representasi Polemik Ngaben dan Kremasi dalam Perspektif Multikulturalisme pada Cerpen “Krematorium” karya I Made Sugianto dalam Kumpulan Cerpen Aib
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6569
<p>Penelitian ini bertujuan membahas polemik antara tradisi ngaben dan praktik kremasi dalam cerpen <br>“Krematorium” pada kumpulan cerpen Aib karya I Made Sugianto. Kajian ini menggunakan perspektif <br>multikulturalisme untuk melihat perbedaan pandangan masyarakat terhadap pelaksanaan upacara <br>kematian di Bali. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitis. Data <br>diperoleh dari kutipan dialog dan narasi yang menunjukkan adanya konflik antara tokoh yang <br>mempertahankan tradisi dan tokoh yang memilih cara yang lebih modern dan praktis. Hasil penelitian <br>menunjukkan bahwa cerpen ini menggambarkan pertentangan antara nilai tradisional dan nilai modern. <br>Tradisi ngaben dipandang sebagai warisan budaya yang penting, sedangkan kremasi dianggap sebagai <br>pilihan yang lebih praktis dan ekonomis. Konflik tersebut tidak hanya terjadi antar tokoh dalam cerpen, <br>tetapi juga mencerminkan kondisi masyarakat yang sedang mengalami perubahan. Melalui cerita ini, <br>penulis memperlihatkan pentingnya sikap saling menghargai perbedaan dalam masyarakat yang <br>beragam. Cerpen “Krematorium” mengajarkan bahwa perbedaan pilihan budaya tidak harus <br>menimbulkan konflik, melainkan dapat disikapi dengan toleransi.</p>Ni Kadek Ayu Sumita Dwi AnjaniNi Kadek Intan Karunia DewiNi Kadek Intan Karunia Dewi
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541233241Representasi Tekanan Sosial terhadap Perempuan pada cerpen “Mengayat Benih” karya Kadek Desi Nurani dalam Kumpulan Cerpen Manisan Gula Merah Setengah Gigit
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6570
<p>Penelitian ini membahas mengenai representasi tekanan sosial terhadap perempuan dalam karya sastra, <br>khususnya cerpen. Tekanan sosial terhadap perempuan sering terjadi dalam masyarakat, terutama dalam <br>konteks rumah tangga yang berkaitan dengan keturunan. Pokok permasalahan dalam kajian ini, yaitu <br>bagaimana perempuan menjadi pihak yang disalahkan jika tidak bisa memberikan keturunan. Objek <br>dalam kajian ini adalah cerpen “Mengayat Benih” pada kumpulan cerpen Manisan Gula Merah <br>Setengah Gigit karya Kadek Desi Nurani. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan <br>deskriptif analitis untuk menggambarkan peristiwa dalam cerpen. Data diperoleh melalui teknik baca <br>dan catat yang berfokus pada kutipan dialog dalam cerpen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <br>tekanan sosial tokoh perempuan direpresentasikan melalui berbagai bentuk, stigma sosial, dan <br>anggapan jika perempuan pihak satu-satunya yang bertanggung jawab dalam memiliki keturunan. Hal <br>tersebut menyebabkan perempuan mengalami tekanan psikologis seperti, rasa bersalah, kecemasan, <br>tekanan batin, dan konflik internal dalam diri perempuan, meskipun pada kenyataan bukan perempuan <br>sebagai pihak yang bersalah.</p>Ni Luh Made Intan Kharisma PutriNi Kadek Ayu Sumita Dwi AnjaniNi Luh Made Intan Kharisma Putri
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541242248Analisis Teori-Teori Pemerolehan Bahasa dalam Pembelajaran Psikolinguistik pada Konteks Multikultural
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6571
<p>Bahasa memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi yang digunakan manusia untuk <br>menyampaikan pikiran, gagasan, perasaan, dan keinginan kepada orang lain. Melalui bahasa, <br>seseorang dapat berinteraksi, bertukar informasi, serta membangun hubungan sosial dalam <br>kehidupan sehari-hari. Namun, dalam proses komunikasi, makna suatu ujaran tidak hanya <br>ditentukan oleh susunan kata atau struktur kalimatnya saja. Makna juga sangat bergantung pada <br>konteks situasi, hubungan antara penutur dan pendengar, serta tujuan dari percakapan itu sendiri. <br>Inilah yang kemudian menjadi fokus kajian bidang pragmatik, yaitu cabang ilmu bahasa yang <br>mempelajari bagaimana konteks dapat memengaruhi pemahaman makna tuturan. Pemerolehan <br>bahasa merupakan salah satu kajian penting dalam bidang psikolinguistik yang membahas <br>bagaimana manusia memperoleh, memahami, dan menggunakan bahasa. Penelitian mengenai <br>pemerolehan bahasa terus berkembang seiring dengan kemajuan ilmu kognitif, neurolinguistik, <br>serta teknologi pendidikan. Paper ini bertujuan untuk menganalisis beberapa teori utama <br>pemerolehan bahasa dalam psikolinguistik, yaitu teori behaviorisme, nativisme, kognitivisme, <br>interaksionisme, dan pendekatan penggunaan (usage-based approach) dengan meninjau <br>perkembangan penelitian dalam lima tahun terakhir (2020–2025). Metode yang digunakan adalah <br>studi pustaka dari berbagai jurnal ilmiah terbaru yang membahas pemerolehan bahasa. Hasil <br>analisis menunjukkan bahwa teori-teori klasik masih relevan sebagai dasar konseptual, namun <br>penelitian mutakhir cenderung menggabungkan beberapa pendekatan secara integratif dengan <br>mempertimbangkan faktor kognitif, sosial, dan lingkungan dalam proses pemerolehan bahasa.</p>Alya Aryani Rahmah
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541249262Representasi Multikultural dalam Puisi Aku Ingin Karya Sapardi Djoko Damono dan Puisi Bali Karya Yudha Panik
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6573
<p>Artikel ini menelaah representasi multikultural dalam dua puisi Indonesia, Aku Ingin karya Sapardi <br>Djoko Damono dan Bali karya Yudha Panik. Penelitian bertujuan mengungkap bagaimana kedua puisi <br>yang lahir dari konteks budaya berbeda, mampu menyuarakan nilai universal sekaligus menegaskan <br>identitas lokal. Dengan metode deskriptif-kualitatif dan pendekatan kajian sastra multikultural, <br>analisis dilakukan terhadap tema, simbol, dan bahasa. Hasil menunjukkan bahwa Aku Ingin <br>merepresentasikan multikulturalisme melalui kesederhanaan bahasa dan tema cinta yang universal, <br>sehingga dapat diterima lintas budaya. Sebaliknya, Bali menampilkan kekentalan budaya lokal <br>melalui simbol seni, spiritualitas Hindu Bali, serta tradisi sastra lisan. Walau sangat lokal, puisi ini <br>tetap menyuarakan nilai universal tentang kesucian hidup, harmoni, dan warisan leluhur. <br>Perbandingan keduanya menegaskan bahwa sastra Indonesia, baik modern maupun tradisional, <br>berfungsi sebagai ruang dialog antarbudaya. Kesimpulannya, puisi menjadi medium penting dalam <br>membangun pemahaman lintas budaya dan memperkuat identitas Indonesia sebagai bangsa <br>multikultural.</p>Anak Agung Sagung Inten Indrawati
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541263269Integrasi Strategi Pembelajaran dalam Meningkatkan Keterampilan Membaca: Kajian Literatur Sistematis (SLR)
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6574
<p>Keterampilan membaca termasuk ke dalam empat keterampilan berbahasa yang penting untuk <br>dikuasai peserta didik. Namun, rendahnya minat baca serta kurangnya variasi strategi dan media <br>pembelajaran menjadi kendala dalam meningkatkan kemampuan membaca. Penelitian ini bertujuan <br>untuk mengkaji integrasi strategi pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan membaca melalui <br>pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Data dikumpulkan dari 29 artikel ilmiah yang <br>terindeks Sinta 1 dan 2 dalam enam tahun terakhir, kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif <br>melalui tahapan identifikasi, seleksi, evaluasi, dan sintesis sehingga terpilih 7 strategi yang relevan <br>untuk meningkatkan pembelajaran keterampilan membaca. Hasil kajian menunjukkan bahwa strategi <br>seperti KWL, CIRC, literasi visual, serta pendekatan berbasis minat dan kolaborasi guru-orang tua <br>efektif dalam meningkatkan pemahaman membaca. Integrasi strategi dengan media interaktif, seperti <br>infografis digital dan platform kuis, terbukti mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa. <br>Selain itu, faktor internal dan eksternal juga memengaruhi keberhasilan pembelajaran membaca. <br>Oleh karena itu, diperlukan inovasi pembelajaran yang terintegrasi untuk menciptakan proses <br>membaca yang lebih efektif dan bermakna.</p>Erika Diyah Ayu UtariTitik Dwi Ramthi Hakim
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541270285Efektivitas Metode Inovatif dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara: Systematic Literature Review
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6575
<p>Kemampuan berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa yang berkembang setelah <br>kemampuan menyimak, serta memiliki peran penting dalam mengungkapkan gagasan, pikiran, dan <br>perasaan secara lisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas metode inovatif dalam <br>pembelajaran keterampilan berbicara demi meningkatkan kualitas kemampuan komunikasi melalui <br>beberapa metode, strategi dan media. Metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui <br>pendekatan Systematic Literature Review (SLR). Melibatkan proses identifikasi, seleksi, dan analisis <br>terhadap sejumlah artikel ilmiah yang relevan dari database terindeks, seperti Google Scholar dan <br>jurnal nasional terakreditasi SINTA. Kriteria inklusi meliputi artikel yang membahas berbagai <br>metode inovatif, efektivitas dan beberapa faktor yang mempengaruhi keterampilan berbicara. Hasil <br>kajian menunjukkan bahwa metode inovatif pembelajaran berbicara didominasi oleh berbagai <br>metode yakni metode debat, story telling, pemanfaatan platform berbasis video, aplikasi <br>pembelajaran interaktif, serta pendekatan berbasis proyek yang berhasil meningkatkan kepercayaan <br>diri dan keterampilan berbicara peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan strategi metode inovatif <br>yang interaktif dan kontekstual untuk memaksimalkan pembelajaran keterampilan berbicara. <br>Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi sebagai landasan konseptual dalam <br>pengembangan inovasi pembelajaran berbicara yang lebih efektif dan kreatif.</p>Shoidatul AisyahTitik Dwi Ramthi hakim
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541286298Pengaruh Transformasi Digital terhadap Evolusi Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Platform Digital
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6576
<p>Artikel ini membahas pengaruh transformasi digital terhadap bahasa dan sastra Indonesia. <br>Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan bentuk dan fungsi bahasa serta <br>munculnya praktik sastra baru akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. <br>Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui analisis konten mendalam <br>terhadap teks digital di media sosial, platform sastra daring, dan karya sastra digital <br>kontemporer. Data primer dikumpulkan dari postingan Instagram, Twitter, TikTok, serta <br>cerita pendek dan puisi yang dipublikasikan di situs sastra dan Wattpad selama periode <br>2020–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi digital telah melahirkan <br>bahasa hybrid yang kaya akan singkatan, emoji, meme, dan code-mixing, yang <br>memperkaya ekspresi kreatif namun mengurangi tingkat formalitas bahasa baku. Dalam <br>sastra, muncul genre baru seperti puisi pendek, fiksi interaktif, dan puisi visual yang lebih <br>interaktif dan inklusif bagi generasi muda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun <br>membawa peluang besar bagi kreativitas sastra, transformasi digital juga berpotensi <br>menggerus kedalaman makna dan nilai budaya lokal jika tidak diimbangi dengan strategi <br>pelestarian yang tepat.</p>Ni Komang SariasihNi Wayan SuwiniNi Komang Dian Yuliasih
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541299306Peran Guru dalam Pengajar Bahasa dan Sastra Pada Masyarakat Multikultural
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6577
<p>Penelitian ini membahas peran guru dalam pengajaran bahasa dan sastra pada masyarakat multikultural. <br>Keberagaman budaya, bahasa, dan latar belakang siswa menjadi tantangan tersendiri dalam proses <br>pembelajaran di kelas. Kondisi tersebut menuntut guru untuk mampu menyesuaikan metode pengajaran <br>agar pembelajaran tetap efektif dan mudah dipahami oleh seluruh siswa. Tujuan penelitian ini adalah <br>untuk mengetahui bagaimana peran guru dalam menciptakan pembelajaran yang efektif di lingkungan <br>multikultural. Objek kajian penelitian ini adalah proses pembelajaran bahasa dan sastra di kelas yang <br>memiliki latar belakang siswa yang beragam. Penelitian ini menggunakan teori sosiolinguistik yang <br>berfokus pada fungsi bahasa dalam interaksi sosial dan pendekatan pembelajaran kontekstual, yang <br>berkaitan secara menyeluruh nyata dan mendalam. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif <br>dengan teknik studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa guru berperan penting sebagai fasilitator <br>dalam menciptakan pembelajaran yang inklusif, menghargai perbedaan budaya, serta meningkatkan <br>pemahaman bahasa dan apresiasi sastra siswa. Dengan demikian, pengajaran bahasa dan sastra dapat <br>berjalan lebih optimal di lingkungan multikultural.</p>Ni Komang Dian YuliasihNi Wayan Suwini Ni Komang Sariasih
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541307315Strategi Inovatif Pembelajaran Bahasa Indonesia Berbasis Digital dalam Meningkatkan Literasi Siswa di Era Modern
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6579
<p>Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, <br>termasuk dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji strategi <br>inovatif pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis digital dalam meningkatkan kemampuan literasi <br>siswa. Metode yang digunakan adalah studi literatur dengan menganalisis berbagai sumber ilmiah <br>terkait pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran bahasa. Hasil kajian menunjukkan bahwa <br>penggunaan media digital seperti aplikasi pembelajaran, platform daring, dan multimedia interaktif <br>mampu meningkatkan minat belajar, keterampilan membaca, serta kemampuan menulis siswa secara <br>signifikan. Selain itu, integrasi teknologi juga mendorong pembelajaran yang lebih fleksibel, kreatif, <br>dan berpusat pada siswa. Namun, terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan akses teknologi <br>dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran digital. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan <br>berkelanjutan bagi pendidik serta dukungan infrastruktur yang memadai. Dengan penerapan strategi <br>yang tepat, pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis digital dapat menjadi solusi efektif dalam <br>meningkatkan literasi siswa di era modern serta mendukung terciptanya generasi yang adaptif dan <br>kompeten.</p>Putu Ayu ArianiMaria Frangela Sriti Sangu
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541316322Media Digital sebagai Wahana Pembelajaran Sastra Indonesia: Inovasi dan Tantangan di Era Teknologi
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6580
<p>Artikel ini membahas penggunaan media digital dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia <br>sebagai cara baru di era teknologi yang terus maju. Masalah yang menjadi latar belakang tulisan ini <br>adalah rendahnya minat siswa terhadap pelajaran bahasa dan sastra serta cara belajar yang terasa <br>membosankan di kelas. Pertanyaan utama dalam tulisan ini adalah bagaimana media digital dapat <br>digunakan agar pelajaran bahasa dan sastra menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Tulisan ini <br>membahas penggunaan media sosial, aplikasi belajar, dan video pelajaran dalam kegiatan belajar <br>mengajar sastra di sekolah. Kajian ini memakai teori belajar konstruktivisme dengan cara penelitian <br>deskriptif kualitatif melalui membaca berbagai sumber pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa <br>penggunaan media digital dalam pembelajaran bahasa dan sastra dapat meningkatkan semangat <br>belajar, kreativitas, dan kemampuan membaca siswa jika diterapkan dengan cara yang tepat dan <br>sudah direncanakan dengan baik.</p>Dewa Ayu Chintya Dwi Mahayani
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541323328Etnolinguistik Rerajahan Bali: Menyikap Narasi Visual Rerajahan Semara Ratih sebagai Potensi Pembelajaran Sastra Bali
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6581
<p>Penelitian ini mengkaji narasi visual rerajahan Semara Ratih melalui pendekatan etnolinguistik <br>sebagai potensi materi pembelajaran sastra Bali. Rerajahan merupakan ekspresi visual kebudayaan <br>Bali yang sarat nilai spiritual dan magis. Fokus kajian tertuju pada figur Semara Ratih yang <br>merepresentasikan mitologi Sang Hyang Semara Ratih dalam Lontar Cundamani II sebagai simbol <br>cinta kasih, kesetiaan, dan pengorbanan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif <br>kualitatif dengan mengintegrasikan teori etnolinguistik, semiotika, dan pembelajaran sastra. Data <br>dianalisis melalui interpretasi simbol visual, perpaduan ikonografi wayang, serta penggunaan aksara <br>Bali untuk mengungkap makna mendalam dan fungsi rerajahan sebagai artefak komunikasi visual <br>dalam masyarakat Hindu Bali yang menerapkan konsep rwa bhineda. Hasil penelitian menunjukkan <br>bahwa rerajahan Semara Ratih bukan sekadar seni tradisional, melainkan sistem komunikasi <br>budaya yang merepresentasikan pola pikir spiritualitas masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa <br>rerajahan memiliki potensi strategis sebagai sumber ajar berbasis kearifan lokal. Integrasi narasi <br>visual ini dalam pembelajaran sastra Bali diharapkan mampu meningkatkan literasi budaya siswa <br>serta memperdalam pemahaman nilai-nilai filosofis secara kontekstual dan aplikatif. Penggunaan <br>artefak budaya sebagai media ajar menjadi solusi inovatif dalam melestarikan sastra dan identitas <br>lokal di era modern.</p>Anak Agung Sri Dewi
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541328339Artificial Intelligence sebagai Tutor Sebaya dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia: Integrasi Pedagogi Digital dan Kearifan Lokal
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6583
<p>Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengkaji peran Artificial Intelligence (AI) <br>sebagai tutor sebaya dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dan mendeskripsikan <br>skenario pengimplementasiannya dalam pembelajaran dari dimensi pedagogi digital dan kearifan <br>lokal. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan metode pengumpulan data <br>jajak pendapat/wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Hasilnya menunjukkan bahwa (1) <br>Artificial Intelligence memiliki potensi yang besar sebagai mitra belajar atau tutor sebaya di era <br>digital, yang lebih adaptif, responsif, dan personal, serta memfasilitasi proses belajar secara <br>dialogis. Namun, potensi AI sebagai tutor sebaya perlu diimbangi dengan integrasi nilai-nilai <br>kearifan lokal asah, asih, asuh, agar tidak mengikis identitas budaya dan konteks sosial yang <br>nyata. (2) Skenario pengimplementasiannya dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dari <br>dimensi pedagogi digital dan kearifan lokal dilakukan melalui integrasi dengan nilai asah, asih, <br>asuh, sehingga komunikasi tidak dilakukan hanya dengan AI sebagai tutor sebaya tetapi juga <br>dengan sesama melalui pola asah, asih, asuh. AI hanya sebagai pembuka jalan ide, sedangkan <br>pemantapannya tetap harus dengan sesama, sehingga pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia <br>di era digital tetap bisa diinovasikan tanpa mengabaikan kearifan lokal sebagai esensi penting <br>dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Hasil kajian ini diharapkan bermanfaat bagi <br>siswa/mahasiswa, guru/dosen, pemerhati pendidikan/pengajaran bahasa, dan pihak terkait <br>lainnya.</p>Ni Kadek Juliantari
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541340352Kajian Etnopedagogi: Tradisi Lisan Topeng Banjet Karawang dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6585
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tradisi lisan Topeng Banjet di Kabupaten Karawang sebagai <br>sumber pembelajaran dalam bahasa dan sastra Indonesia melalui pendekatan etnopedagogi. Tradisi <br>Topeng Banjet tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya, <br>moral, dan kearifan lokal yang relevan untuk diintegrasikan dalam proses pembelajaran. Metode yang <br>digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, melalui teknik <br>observasi, wawancara, dan studi dokumentasi terhadap pelaku seni dan praktisi pendidikan. Hasil <br>penelitian menunjukkan bahwa unsur-unsur dalam tradisi lisan Topeng Banjet, seperti dialog, alur <br>cerita, dan penggunaan bahasa daerah, dapat dimanfaatkan sebagai bahan ajar untuk meningkatkan <br>keterampilan berbahasa, apresiasi sastra, serta pemahaman budaya siswa. Selain itu, penerapan <br>pendekatan etnopedagogi dalam pembelajaran mampu memperkuat identitas budaya lokal sekaligus <br>meningkatkan keterlibatan peserta didik. Dengan demikian, tradisi lisan Topeng Banjet memiliki <br>potensi yang signifikan sebagai media pembelajaran inovatif dalam bahasa dan sastra Indonesia.</p>Alin AmbarwatiSeli Mauludani Siti MasitohKurnia Dewi Nurfadilah
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541353364Representasi Pengorbanan Ibu dan Nilai Multikultural dalam Antologi Cerpen Tetap Melangkah Karya Ni Luh Rai Arsini, S.Pd., Dkk.
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6586
<p>Antologi cerpen Tetap Melangkah karya Ni Luh Rai Arsini, S.Pd., dkk. memuat cerita yang <br>merepresentasikan pengorbanan ibu dalam kehidupan masyarakat desa yang multikultural. Penelitian <br>ini bertujuan untuk menganalisis representasi pengorbanan ibu serta mengidentifikasi nilai-nilai <br>multikultural dalam antologi tersebut, dengan fokus pada cerpen Melahirkan Putu Kecilku dan Ibu, <br>Pahlawanku, serta didukung oleh cerpen Revolusi Buku di Desa Kecil dalam mengidentifikasi nilai<br>nilai multikultural. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data diperoleh melalui teknik <br>membaca dan mencatat bagian-bagian penting dari teks cerpen sebagai sumber data primer, <br>sedangkan data sekunder berupa buku dan jurnal yang membahas teori representasi dan <br>multikulturalisme. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori representasi untuk mengkaji <br>penggambaran pengorbanan ibu dalam teks, serta teori multikulturalisme untuk mengidentifikasi <br>nilai-nilai sosial budaya yang muncul. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengorbanan ibu <br>direpresentasikan melalui tindakan tokoh dalam menjalankan peran keluarga di tengah berbagai <br>kondisi sosial, sedangkan nilai multikultural tercermin dalam interaksi sosial, sikap kekeluargaan, <br>dan penghargaan terhadap perbedaan dalam masyarakat.</p>Ni Putu Santi RahayuNi Putu Intan Cahyani
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541365373NARASI BUDAYA DAN REPRESENTASI KEBERAGAMAN DALAM KUMPULAN CERPEN CUBANG KARYA GEG ARY SUHARSANI: KAJIAN MULTIKULTURAL
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6588
<p>Makalah ini membahas narasi budaya dan representasi keberagaman dalam kumpulan <br>cerpen Cubang sebagai upaya memahami realitas masyarakat multikultural melalui <br>karya sastra. Pokok permasalahan dalam kajian ini adalah bagaimana narasi budaya <br>ditampilkan serta bagaimana keberagaman direpresentasikan dalam cerpen-cerpen <br>tersebut. Objek material penelitian ini adalah kumpulan cerpen Cubang karya Geg <br>Ary Suharsani. Kajian ini menggunakan teori multikulturalisme dan representasi <br>budaya dengan metode deskriptif analitik. Data penelitian berupa kutipan teks yang <br>mencerminkan nilai budaya, interaksi sosial, dan dinamika kehidupan masyarakat. <br>Hasil analisis menunjukkan bahwa cerpen-cerpen dalam Cubang merepresentasikan <br>kehidupan masyarakat Bali yang sarat nilai tradisi, adat istiadat, dan kearifan lokal <br>yang masih terjaga. Keberagaman tampak melalui perbedaan latar sosial, pandangan <br>hidup, serta dinamika antara budaya lokal dan pengaruh modernitas yang terus <br>berkembang. Narasi yang dihadirkan memperlihatkan relasi yang harmonis maupun <br>konflik sebagai bagian dari realitas sosial, sehingga karya ini mampu memperkuat <br>pemahaman pembaca terhadap keberagaman budaya dalam masyarakat secara lebih <br>luas dan kontekstual.</p>Maria Frangela Suriti Sangu Putu Ayu Ariani
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541374383Representasi Identitas Hibrida Tokoh Lintang Utara dalam Novel Pulang Karya Leila S. Chudori: Kajian Multikulturalisme
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6589
<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis representasi identitas hibrida tokoh Lintang Utara <br>dalam novel Pulang karya Leila S. Chudori dengan menggunakan kajian multikulturalisme. <br>Permasalahan dalam penelitian ini muncul dari kondisi tokoh Lintang sebagai anak eksil <br>yang hidup di antara dua budaya, yaitu Indonesia dan Prancis. Hal ini membuat identitasnya <br>tidak utuh pada satu budaya saja, melainkan terbentuk dari percampuran berbagai latar <br>belakang budaya dan pengalaman hidup. Objek kajian utama adalah tokoh Lintang Utara, <br>anak hasil pernikahan campur Dimas Suryo (eksil Indonesia) dan Vivienne Deveraux <br>(perempuan Prancis). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data diperoleh <br>melalui teknik membaca dan mencatat bagian penting terhadap teks novel sebagai sumber <br>data primer, sementara data sekunder berupa buku dan jurnal yang membahas teori identitas <br>dan multikulturalisme. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas Lintang terus berubah <br>sesuai dengan lingkungan dan pengalaman yang ia hadapi. Ia tidak sepenuhnya menjadi <br>orang Indonesia maupun orang Prancis, melainkan berada di antara keduanya. Kondisi ini <br>membuatnya sering mengalami kebingungan identitas, tetapi juga memberinya kemampuan <br>untuk memahami berbagai budaya sekaligus. Penelitian ini memberikan dampak bahwa <br>karya sastra dapat membantu pembaca memahami kehidupan individu dengan latar budaya <br>yang beragam, serta membuka pandangan bahwa identitas seseorang bisa bersifat campuran <br>dan tidak harus tunggal.</p>Ni Putu Intan Cahyani Ni Putu Santi Rahayu
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541384393Menggali Keberagaman Budaya melalui Pengajaran Bahasa dan Sastra
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6590
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran pengajaran bahasa dan sastra dalam menggali <br>serta memperkuat keberagaman budaya di lingkungan pendidikan. Metode yang digunakan adalah <br>kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis deskriptif terhadap praktik pembelajaran <br>bahasa dan sastra di sekolah menengah. Data diperoleh dari kajian literatur ilmiah, dokumen <br>kurikulum, serta observasi terbatas terhadap proses pembelajaran di kelas. Hasil penelitian <br>menunjukkan bahwa integrasi materi bahasa dan sastra yang berbasis multikultural mampu <br>meningkatkan kesadaran siswa terhadap keberagaman budaya, memperkuat sikap toleransi, serta <br>mengembangkan keterampilan komunikasi lintas budaya. Penggunaan teks sastra daerah dan karya <br>sastra nasional yang mengandung nilai-nilai budaya terbukti efektif dalam membangun pemahaman <br>identitas budaya dan memperluas wawasan siswa terhadap realitas sosial yang beragam. Selain itu, <br>pembelajaran berbasis budaya juga mendorong kemampuan berpikir kritis dan reflektif siswa dalam <br>memahami perbedaan. Namun demikian, implementasi di lapangan masih menghadapi kendala <br>seperti keterbatasan bahan ajar berbasis budaya serta kompetensi guru dalam mengintegrasikan <br>pendekatan multikultural secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan strategi <br>pembelajaran yang lebih kontekstual, inovatif, dan inklusif untuk mendukung pendidikan berbasis <br>keberagaman budaya di Indonesia secara berkelanjutan.</p>Ni Wayan SudartiAgnes Egnes
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541394402ALIH KODE DAN CAMPUR KODE BAHASA ANAK TK NEGERI 3 LUBUK BUNTAK KECAMATAN DEMPO SELATAN DALAM KAJIAN LINGUISTIK MASYARAKAT MULTIKULTURAL
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6591
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk alih kode juga campur kode <br>bahasa anak TK Negeri 3 Lubuk Buntak Kecamatan Dempo Selatan dalam konteks masyarakat <br>multikultural. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik <br>pengumpulan data yakni simak, catat, dan rekam. Data penelitian berupa tuturan lisan anak <br>usia 3–6 tahun dalam kegiatan belajar dan bermain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <br>terdapat alih kode internal dan eksternal, serta campur kode ke dalam, ke luar, dan campuran. <br>Alih kode terjadi karena perubahan situasi, lawan tutur, dan topik pembicaraan, sedangkan <br>campur kode dipengaruhi oleh lingkungan keluarga, media digital, serta kebiasaan berbahasa. <br>Fenomena ini mencerminkan dinamika kebahasaan dalam masyarakat multikultural yang <br>sudah terjadi sejak usia dini.</p>Yuyun Nurhalima
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541403412Potensi Sastra Multikultural Warna Lokal Bali Sebagai Bahan Ajar Sastra Untuk Penguatan Toleransi Siswa: Analisis Respons Pembaca
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6592
<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi sastra multikultural warna lokal Bali sebagai bahan <br>ajar sastra untuk penguatan toleransi siswa melalui perspektif multikulturalisme dan teori respons <br>pembaca. Bali sebagai ruang perjumpaan budaya lokal, nasional, dan global menghadirkan <br>berbagai representasi identitas budaya yang dinamis dalam karya sastra Indonesia. Penelitian <br>menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif dengan dukungan data kuantitatif melalui desain <br>survei. Data diperoleh melalui studi pustaka, analisis teks, kuesioner respons pembaca, <br>wawancara, dan focus group discussion (FGD). Korpus penelitian mencakup 52 karya sastra <br>multikultural warna lokal Bali berupa novel, cerpen, dan puisi. Survei dilakukan terhadap siswa, <br>guru, dan pembaca umum di beberapa wilayah Bali dengan mengadaptasi model respons pembaca <br>Segers dan konsep bahan ajar sastra Rahmanto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi <br>identitas budaya Bali dalam sastra bersifat cair dan mengalami negosiasi terus-menerus melalui <br>interaksi antaretnis, antaragama, dan antarbangsa. Cerpen dan puisi memperoleh respons pembaca <br>sangat tinggi serta dinilai sangat potensial sebagai bahan ajar sastra multikultural, sedangkan novel <br>dinilai potensial tinggi karena memiliki kedalaman narasi, tetapi menghadapi kendala <br>kompleksitas bahasa dan keterbacaan. Temuan ini menegaskan bahwa sastra multikultural warna <br>lokal Bali memiliki kontribusi penting dalam penguatan empati, literasi budaya, dan toleransi <br>keberagaman siswa.</p>I Made SujayaNengah ArnawaGede Sidi Artajaya
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541413425Wacana Kritik Sosial dalam Wayang Kulit Inovatif Cenk Blonk Seri 136 “ Pesta Rakyat”
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6593
<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi wujud wacana kritik sosial, menganalisis strategi <br>kebahasaan, serta mengungkap makna ideologis dan implikasi sosiokultural dalam pertunjukan Wayang <br>Kulit Inovatif Cenk Blonk Seri 136 yang berjudul "Pesta Rakyat". Wayang Cenk Blonk tidak hanya <br>berfungsi sebagai hiburan yang sarat nilai pendidikan karakter, tetapi juga menjadi ruang publik <br>(katarsis) yang aman bagi masyarakat untuk merespons dinamika politik dan birokrasi tanpa memicu <br>konflik terbuka. Penelitian ini menggunakan rancangan kualitatif dengan pendekatan Analisis Wacana <br>Kritis (AWK) model Norman Fairclough. Sumber data primer berupa tuturan lisan dari tokoh <br>punakawan (khususnya Sangut dan Mang Eblonk) yang dikumpulkan melalui teknik simak bebas libat <br>cakap dan transkripsi dari rekaman video resmi pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <br>wujud kritik sosial dalam lakon ini terfokus pada patologi birokrasi, hipokrisi elit politik menjelang <br>pemilihan umum, dan pragmatisme masyarakat seperti praktik politik uang atau Serangan Fajar. Dalam <br>mengonstruksi wacana tersebut, sang dalang menggunakan strategi kebahasaan berupa alih kode <br>(bahasa Bali–Indonesia), satire, ironi, pelesetan, serta modifikasi peribahasa lokal (sesenggakan). <br>Secara sosiokultural, wacana kritik ini bermakna sebagai medium perlawanan simbolik bagi masyarakat <br>bawah dan menjadi alat edukasi politik yang efektif dan relevan dengan dinamika demokrasi <br>kontemporer.</p>Ketut Yarsama
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541426438Bahasa Weda dan Eksistensinya dalam Jawa Kuna/Kawi
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6595
<p>Bahasa Sanskerta merupakan bahasa Indo-Eropa paling tua, sarat akan <br>nilai filsafat dan agama, Sering disebut sebagai bahasa Dewa, karena <br>digunakan sebagai pengantar ajaran sastra Hindu. Sepantasnya dipahami <br>generasi muda, sebagai landasan untuk memahami ajaran agama Hindu. <br>Sanskerta berasal dari kata sifat samskrtam berarti "berbudaya". merupakan <br>bahasa yang "tinggi", dipakai untuk keperluan agama dan keperluan ilmiah. <br>Bahasa ini juga disebut deva-bhāsā yang berarti "bahasa Dewata". Secara <br>fundamental merupakan bahasa yang digunakan untuk mendeskripsikan <br>seluruh ajaran. Secara hakiki, berfungsi untuk memahami sabda Tuhan <br>sebagai pijakan dalam kehidupan keseharian, Bahasa ini tergolong paling <br>utama, tertua, serta memiliki relevansi lintas budaya, Sanskerta identik <br>dengan bahasa yang dipakai di dalam Weda atau bahasa Weda. <br>Kegiatan besar pernah terjadi di Indonesia dengan melakukan alih <br>bahasa ke dalam bahasa Jawa Kuna/Kawi, terutama karya sastra Astadasa <br>Parwa dan Uttarakanda. Kegiatan tersebut dirintis Sri Dharmawangsa <br>Teguh Ananta Wikramottunggadewa, seorang maharaja yang memerintah <br>di belahan timur Yawadwipa. Kegiatan maha utama itu diberi istilah khusus <br>dalam <br>bahasa <br>Jawa <br>Kuna, <br>yakni <br>"Mangjawakĕn Byasamata'' <br>[membahasajawakan buah pikiran Bhagawan Byasa, yang berbahasa <br>Sanskerta ke dalam bahasa Jawa Kuna]. Membuktikan betapa bahasa <br>Sanskerta dipelajari dengan sangat intensif pada zaman itu, sehingga karya <br>sastra utama Sanskerta telah dapat dibaca di Indonesia bahkan diterjemahkan <br>ke dalam bahasa Jawa Kuna secara baik. Sungguh sangat mengagumkan akan <br>kemahiran para pujangga di zaman silam dalam menguasai bahasa Sanskerta <br>sebagai bahasa sumber agama Hindu, serta bahasa Jawa Kuna sebagai bahasa <br>penerima dengan sangat baik, yang hingga kini dapat diwariskan kepada <br>generasi muda Hindu.</p>Anak Agung Gde Alit Geria
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541439449Dinamika Deiksis Persona Bahasa Bali: Pergeseran Makna Tunggal dan Jamak dalam Perspektif Pragmatik
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6596
<p>Penelitian ini mengkaji dinamika deiksis persona bahasa Bali, khususnya pergeseran makna tunggal dan <br>jamak dalam komunikasi masyarakat Bali. Kajian ini dilatarbelakangi oleh penggunaan pronomina persona <br>jamak yang bermakna tunggal, seperti i raga yang digunakan untuk menyatakan ‘saya’, serta penggunaan <br>pronomina tunggal yang bermakna jamak, seperti titiang yang digunakan untuk menyatakan ‘kami’. Selama <br>ini fenomena tersebut cenderung dipahami sebagai bentuk pluralis humilitatis atau pluralis majestatis. <br>Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan bentuk singular dan plural dalam bahasa Bali <br>tidak semata-mata berkaitan dengan kerendahan hati maupun kekuasaan, melainkan dipengaruhi oleh faktor <br>pragmatik, variasi pemakaian bahasa, ekonomi bahasa, dan keterbatasan sistem pronomina jamak bahasa <br>Bali. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan perspektif pragmatik. Data <br>diperoleh melalui observasi tuturan masyarakat Bali, percakapan sehari-hari, dan teks berbahasa Bali. Hasil <br>penelitian menunjukkan bahwa pergeseran makna singular dan plural bersifat kontekstual dan fleksibel <br>sesuai hubungan sosial serta situasi tutur. Temuan ini menegaskan bahwa deiksis persona bahasa Bali lebih <br>tepat dipahami sebagai fenomena pragmatik daripada semata-mata fenomena gramatikal. <br><br></p>Ida Ayu Agung Ekasriadi Ni Nengah Hediani
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541450464Representasi Unsur Budaya dalam Novel Lawatan untuk Emak Karya Tjut Zakiyah Anshari dan Relevansinya dalam Pembelajaran
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6601
<p>Derasnya arus globalisasi menyebabkan terjadinya pergeseran nilai dalam masyarakat. Hal ini</p> <p>membuat budaya menjadi relevan dan sangat penting untuk dipelajari. Fenomena pergeseran dan</p> <p>pudarnya budaya lokal dapat dilihat dari berkurangnya keterampilan menggunaan bahasa daerah</p> <p>dalam komunikasi sehari-hari, khususnya pada orang tua, menurunnya partisipasi generasi muda</p> <p>dalam tradisi lokal, serta kehidupan yang semula penuh nuansa kebersamaan (gotong-royong) kini</p> <p>mengarah pada kehidupan yang individualis. Oleh karena itu, pengenalan budaya harus terus</p> <p>dilakukan agar budaya tidak ditinggalkan oleh generasi muda. Karya sastra dapat menjadi salah satu</p> <p>alternatif strategis untuk menananmkan kembali nilai-nilai budaya secara kontekstual dan menarik.</p> <p>Unsur budaya dalam novel <em>Lawatan untuk Emak </em>karya Tjut Zakiyah Anshari dideskripsikan dalam</p> <p>penelitian ini. Menggunakan pendekatan antropologisastra dan metode deskriptif kualitatif. Data</p> <p>penelitian berupa kutipan teks yang mengandung unsur budaya dalam novel. Pengumpulan dilakukan</p> <p>dengan teknik baca dan catat. Data yang terkumpul dianalisis dengan model analisis dari Matthew</p> <ol> <li>Milles dan A. Michael Huberman yaitu meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan</li> </ol> <p>simpulan. Disimpulkan bahwa novel <em>Lawatan untuk Emak </em>menggambarkan unsur budaya yang</p> <p>dikemukakan oleh Koentjaraningrat, yaitu bahasa, sistem pengetahuan, sistem peralatan hidup dan</p> <p>teknologi, organisasi sosial, sistem religi, sistem mata pencaharian dan ekonomi, dan kesenian.</p> <p>Unsur-unsur budaya tersebut menggambarkan nilai-nilai budaya lokal yang dekat dengan kehidupan</p> <p>masyarakat, seperti nilai kekeluargaan, penghormatan kepada orang tua, kebiasaan sosial</p> <p>masyarakat, serta tradisi dan pola kehidupan sehari-hari yang mencerminkan budaya lokal</p> <p>Tulungagung seperti nilai gotong royong, kesederhanaan hidup masyarakat, serta kuatnya</p> <p>kekerabatan dalam lingkungan sosial. Tidak hanya itu, gambaran anak dari warga Tulungagung yang</p> <p>menjadi pekerja migran tergambar serta kerinduannya pada sosok ibu menjadi pemantik semangat</p> <p>seorang anak untuk mengukir prestasi ditemukan juga dalam novel ini.</p>Titik Dwi Ramthi HakimAriesta Bagus Pramuwibowo
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541465475Analisis Peran Bahasa dalam Meningkatkan Literasi Masyarakat: Kajian Literatur terhadap Praktik Pendidikan Bahasa di Indonesia
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6603
<p>Penelitian ini bertujuan mengkaji peran bahasa dalam meningkatkan literasi masyarakat melalui kajian</p> <p>literatur terhadap praktik pendidikan bahasa di Indonesia. Menggunakan metode kepustakaan (library</p> <p>research) dengan pendekatan kualitatif dan analisis isi, penelitian ini menganalisis sumber data dari</p> <p>artikel jurnal ilmiah, buku teks, dan dokumen relevan terbitan 10 tahun terakhir. Hasil kajian</p> <p>menunjukkan bahwa: (1) hubungan bahasa dan literasi bersifat fundamental dengan pendekatan</p> <p>berbasis bahasa ibu yang efektif sebagai jembatan penguasaan bahasa Indonesia; (2) strategi</p> <p>pembelajaran efektif meliputi pendekatan komunikatif dan kontekstual, pemanfaatan media digital,</p> <p>program literasi berbasis komunitas, serta penguatan literasi keluarga; (3) faktor keberhasilan</p> <p>dipengaruhi oleh faktor internal peserta didik, lingkungan pendidikan dan sosial, serta kebijakan dan</p> <p>kelembagaan; (4) kebijakan strategis seperti UKBI menunjukkan peningkatan partisipasi signifikan dari</p> <p>14.718 (2019) menjadi 284.819 (2022). Penelitian ini merekomendasikan penguatan literasi keluarga,</p> <p>peningkatan bahan bacaan kontekstual, pelatihan guru berkelanjutan, integrasi literasi lintas sektor,</p> <p>pemanfaatan teknologi digital, serta pengembangan sistem evaluasi literasi yang komprehensif dan</p> <p>berkeadilan.</p>Lilik Herawati
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541476486Kajian Strukturalisme Genetik dalam Novel Perempuan yang Menangis Kepada Bulan Hitam Karya Dian Purnomo
https://ojs.mahadewa.ac.id/index.php/sandibasa/article/view/6604
<p>Tradisi kawin tangkap atau <em>Yappa Mawine </em>di Sumba, Nusa Tenggara Timur, merupakan praktik adat yang</p> <p>dilakukan ketika terjadi ketidaksepakatan soal belis, di mana perempuan ditangkap tanpa persetujuannya</p> <p>untuk dijadikan istri. Meskipun dianggap bagian dari budaya, tradisi ini menuai kontroversi karena</p> <p>bertentangan dengan prinsip hak-hak perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji novel Perempuan</p> <p>yang Menangis kepada Bulan Hitam karya Dian Purnomo melalui pendekatan strukturalisme genetik Lucien</p> <p>Goldmann. Kajian ini bertujuan untuk mengungkap keterkaitan antara struktur teks sastra dengan struktur</p> <p>sosial yang melatarbelakanginya melalui lima aspek utama: fakta kemanusiaan, subjek kolektif, pandangan</p> <p>dunia, struktur karya sastra, dan dialektika pemahaman dan penjelasan. Metode yang digunakan adalah</p> <p>deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data studi pustaka dan baca-catat. Hasil penelitian</p> <p>menunjukkan bahwa tokoh utama, Magi Diela Talo, mengalami penderitaan fisik dan batin sebagai fakta</p> <p>kemanusiaan sekaligus menjadi pusat subjek kolektif baru yang menolak tradisi kawin tangkap. Novel ini</p> <p>juga menunjukkan peran kelompok sosial seperti Gema Perempuan dan tokoh Dangu yang mendukung</p> <p>perubahan nilai dalam masyarakat. Penulis novel juga menjadi bagian dari subjek kolektif baru karena</p> <p>keterlibatannya secara langsung dengan isu sosial yang diangkat. Temuan ini menunjukkan bahwa karya</p> <p>sastra memiliki peran ideologis dalam membentuk kesadaran sosial dan mendukung perubahan nilai dalam</p> <p>masyarakat</p>Seli MauludaniAlin Ambarwati
Copyright (c) 2026
2026-06-052026-06-0541487504