PERKEMBANGAN SENI LUKIS FLORA DAN FAUNA PENGOSEKAN

Authors

  • I Made Dwi Karang Prasetya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia
  • Ni Putu Laras Purnamasari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia
  • I Putu Karsana Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia

Keywords:

Seni Lukis Flora dan Fauna Pengosekan

Abstract

Seni lukis tradisional Bali merupakan salah satu warisan budaya Bali, yang diwariskan secara turun temurun. Dalam karya lukis tradisional terdapat unsur pakem, style atau gaya serta nilai-nilai spiritual agama Hindu. Khususnya di desa Pengosekan, muncul lukisan bertema flora dan fauna yang mengambarkan keindahan alam seperti bunga-bunga, dedaunan, serangga, burung gelatik, bangau, bebek, tupai dan jalak Bali. Perkembangan seni lukis flora dan fauna Pengosekan dipengaruhi oleh faktor berdirinya organisasi Pita Maha pada tahun 1937. Secara teknik juga berkembang dengan teknik chiarroscuro atau teknik gelap terang yang menampilkan volume pada bentuk tidak lagi pipih seperti dalam seni lukis wayang. Salah satu tokoh penggerak dalam perkembangan seni lukis flora dan fauna Pengosekan adalah I Dewa Nyoman Batuan. mendirikan sebuah organisasi yang menghimpun sebagian seniman Pengosekan pada tahun 1970 yang diberi nama Community of Pengosekan Artist. Perkembangan seni lukis flora dan fauna dipengaruhi oleh kunjungan wisatawan asing ke Bali.

            Tujuan dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui perkembangan seni lukis flora dan fauna Pengosekan dari unsur tema, visual serta periode awal tahun 1980 hingga 2020. (2) Untuk mengetahui faktor apa  saja yang mempengaruhi perkembang seni lukis flora dan fauna Pengosekan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori perkembangan, seni lukis flora dan fauna Pengosekan, estetika. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersumber dari data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, wawancara dan observasi.

            Hasil penelitian ditemukan unsur visualnya seperti garis, komposisi, bentuk, warna, ruang. Terdapat dua tema yang berkembang yaitu cerita tantri dan flora-fauna dalam perkembangan seni lukis flora dan fauna dipengaruhi oleh faktor organisasi pita maha, pariwisata, pendidikan.

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Adnyana. 2015. Arena Seni Pita Maha: Ruang Sosial dan Estetika Seni Lukis Bali 1930‘an. Panggung Vol. 25 No. 3, September 2015 , 250-263.

Ali, M. 2004. Estetika. Tanggerang: SANGGAR LUXOR.

Arikunto. 2014. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Rineka Cipta.

Bahdin dan Ardial. 2005. Pedoman Penulisan Karya IImiah. Jakarta: Kencana.

Dermawan T. 2006. Tradisi dan Reputasi. Jakarta.

Hurlock. 1976. Psikologi Perkembangan. pustaka-indo.blogspot.com.

Laras, Agus. 2020. Unsur Visual Seni Lukis Flora Dan Fauna Pengosekan Pada Seni Kerajinan Batu Padas Di Desa Singapadu. Stilistika Volume 9, Nomor 1, November 2020, 122-133.

Mantra, I. B. 1990. Dampak Industri Pariwisata Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Diubud Bali. POPULASI, 2(1), 1990, 73-75.

Moleong, J. 2017. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA.

Parta. 2011. Perkembangan Seni Rupa Pita Maha dalam Konteks Konstruksi Kebudayaan Bali. MUDRA Jurnal Seni Budaya volume 26, nomor 2, Juli 2011, 181-192.

Pengembang KBBI Daring. (2016, Oktober 28). Pengertian Sejarah. Retrieved from KBBI Daring: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/sejarah. Diakses pada tanggal 22 Maret 2021

Sangadji dan Sophiah. 2010. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: C.V ANDI OFFSET.

Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Siyoto dan Sodik. 2015. Dasar Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Literasi Media Publishing.

Susanto, M. (2011). Diksi Rupa. Yogyakarta: DictiArt Lab & Djagat Art House.

Published

2021-10-29